Godaan terberat dalam mengelola keuangan adalah pencatatan. Ketika pencatatan rapi dan dapat dipertanggungjawabkan semuanya maka itu akan sangat membantu kamu dalam setiap rencana keuangan ke depannya. Tapi ucapkan 'bye' saja kalau pencatatan keuanganmu kacau balau. Tidak akan bisa dapat rencana yang cukup matang.
Alih-alih berencana, ini hanya akan sekedar menabung tanpa tahu tujuan. Akibatnya jika sewaktu-waktu ada kebutuhan dana yang sekaligus menuntut 'konsentrasi pengeluaran', kamu mungkin akan banyak terkejutnya ketimbang bersiapnya.
Nah, oleh karena itu, sejak awal mula kenal sama yang namanya uang jajan masa sekolah dulu pasti aku selalu mencatat setiap pengeluaranku. Kebiasaan itu membantuku untuk mengelola target dan kebutuhan apa saja yang bisa aku penuhi. Menjelang dewasa sampai akhirnya menikah dan punya anak, pencatatan keuangan menjadi semakin penting. Alasannya adalah sebagai istri sekaligus ibu, aku harus tahu kemana saja uang keluarga kami bermuara dan berapa banyak yang harus kami kelola setiap harinya untuk segala jenis kebutuhan hidup.
Konsistensi mencatat itu yang kemudian menjadi godaan di masa-masa ini. Karena sering menunda, eh malah lupa mencatat. Akibatnya jadi tidak runut dalam pencatatan dan kita jadi tidak tahu sebetulnya sudah menggunakan dan mengelola sejauh mana. Saat ini, aku sedang kembali berusahan ke jalan yang benar. Hehe semoga lebih tahan godaan dan istiqomah.
Minimal target selama satu semester ini adalah konsistensi mencatat tetap aman. Kalau sudah menjadi kebiasaan akan lebih mudah lagi kembali untuk menata kondisi keuangan keluarga kami.
Ayo, fokus! Mencatat.
Anak ditinggal mati orang tua bisa disebut yatim piatu. Suami ditinggal istri menjadi duda. Istri menjadi janda. Tapi tidak pernah ada sebutan untuk orang tua yang ditinggal mati anaknya. Sudah sepekan lebih berita Eril putra dari Ridwan Kamil sang Gubernur menjadi trending karena dinyatakan hilang di sungai Aare, Bern, Swiss. Hari ini, di 3 Juni 2022 keluarga sepakat dan dengan lapang dada menyatakan bahwa Eril meninggal dunia.
Apa kabarnya Bu Atalia selaku ibu ya? Saya tidak pernah bisa membayangkan bagaimana rasanya jadi beliau. Sejak jadi ibu, mudah sekali makin "ciut" hati ini perkara anak. Manusia diuji dengan cara masing-masing. Ketabahan dan ketakwaan juga menjadi masing-masing urusan pribadi yang bersangkutan. Sungguh hanya manusia kuat yang sanggup melewat setiap ujian dengan versi terbaik dirinya dengan tetap menjunjung Allah sebagai Yang Maha Kuasa.
Memang ketiadaan adalah mutlak milik Allah, karena keberadaan pun semata-mata hanya karena-Nya. Semua di dunia ini tiada yang abadi kecuali Allah. Kita harus selalu ingat bahwa semua hanya titipan. Titipan. Dijaga sebaik mungkin ketika ada. Dilapangkan dada menerima ketika waktunya diambil kembali.
Semoga segala yang terbaik untuk setiap pembaca. Kembali diingatkan lewat kematian. Banyak bersyukur, tidak lupa banyak juga istighfar.
Ada banget capenya jadi working mom itu. Dukungan dari orang terdekat memang luar biasa sangat memberikan efek ya. Suami, ibu mertua, ayah mertua, tetangga yang saling silang memberikan bantuan adalah rahmat. Berkah dari Allah yang bentuknya bukan materil tapi sangaaaaaaaat berharga. Sekarang bisa kebayang gimana rasanya jika melalui ini sendirian. Mungkin bisa. Bisa gila. Hahaha
Canda.
Perasaan dan kekuatan ibu tidak bisa dipukul rata satu sama lain. Terlebih akan selalu ada masa di mana ibu bisa jadi apapun dan dalam level yang paling tinggi.
---
Yang makin sayang dan kangen mama, Al Fatihah.
Rasanya jadi Mama ga pernah seumur-umur kebayang begini banget. Ga enak sekaligus enak. Lelah sekaligus santai. Sedih sekaligus bahagia. Diri sendiri seperti jadi nomor sekian.
Tapi harus inget, waras lahir batin adalah kunci menjadi Mama.
"Now I know, Ma. Kapan-kapan kita cerita ya tentang seseru itu menjadi ibu. Mba kangen."