Mau ngajak Reza aja tadinya, soalnya yang lain suka lama ngasih respon. Belum lagi maju mundur perihal jadwal berangkat yang ujung-ujungnya malah ga jadi. Tapi sekarang lebih ketat peraturannya. Tidak diizinkan kalau cuma jadi perempuan satu-satunya di perjalanan yang tanpa mahrom-nya. Baik. Padahal jadinya juga ada Agist. Tapi tetep, karena Agist bukanlah wanita maka pencarian harus tetap dilakukan. Makanya, Dina harus ikut. Wajib. Karena kalau ngajak Rendy juga tidak memungkinkan. Dia harus kerja meanwhile gue liburan. Gak boleh barengan liburnya. Hehehe. (Sabar-sabar ya, Dek. Namanya juga lagi belajar kerja. Nikmatin aja.)
Di detik terakhir sebelum pesan tiket pulang, Tomi gabung bareng. Katanya sih butuh penghilang penat dan rehat sejenak. Tapi percayalah, gue rasa pulang dari sini dia makin cenat-cenut dan gagal refresh otak. Takdir berkata lain. I've been there, Dude. I can feel you :p
Prau di mata orang lain adalah gunung-gunungan yang dicap mudah sekali didaki, kurang menantang, ramai orang, tempat untuk sekedar wisata pasar tumpah. Eits, tapi jangan salah. Ga gitu juga ko. Setiap perjalanan di gunung manapun, itu ga pernah bisa dianggap sepele. Tetep aja butuh persiapan matang dan koordinasi tim yang baik.
Menyerahkan sepenuhnya keputusan untuk memilih jalur awal pendakian kepada yang sudah berpengalaman sebelumnya, Reza, adalah hal yang tepat. Kami lewat jalur Dwarawati setelah Jumatan dan isi perut. Jalurnya adem, banyak pohon, bisa santai dan betul-betul sepi. (Tidak seperti kata orang-orang yang katanya Prau padet amat). Tapi karena memang sedang musim kemarau yang panjaaaang ini, hujan tak turun-turun, efek selanjutnya adalah udara di Dieng semakin dingin dan ditambah angin kencang. Makin semriwing, Cuy!.
Perjalanan yang sunyi senyap ini menyajikan banyak pemandangan cihuy, yang beneran bisa bikin gue ngerasa damai banget. Entah kenapa, tujuan perjalanan kali ini gue beneran cuma pengen menyepi dan bahagia karenanya. Sesimpel itu. Gue butuh rehat dari kejar-kejaran deadline, berisiknya isi kepala, dan warna-warni pantone di meja.
Langitnya bagus sepanjang perjalanan, udaranya seger, cuma angin doang yang geber-geber. Padahal jaket udah macem kue lapis. Tetep nembus dan juga bikin jari-jari super kaku. Pasca bikin tenda dan ganti baju, makan malem terus langsung tidur. Ga sanggup kalau disuruh keluar tenda bikin timelapse ala-ala milky way. No way.
Btw, FYI. Baru pertama kali ini sepanjang sejarah gue pergi kemping, kita punya tenda cuma sendirian di area camp. Sampai akhirnya ada empat orang yang bikin sebuah tenda agak jauh di depan kita. Senyap. Tapi gue suka, saat itu.
Malam berlalu dan sepanjang malam juga gue harus nahan pipis, karena takut juga mau keluar sendirian karena ga ada satupun teman yang bisa dibangunin. Set dah. Sampai akhirnya Shubuh datang dan gue bisa minta temenin Agist yang juga berasa hal yang sama. Hamdalah. Lega! Sumpah.
Langit mulai terang, kita pergi menyusuri setapak menuju atas bukit di atas area camp. Menanti matahari terbit. Tapi angin tetap ga santai. Jangan harap bisa lihat hasil foto ciamik ala-ala selebgram. Kita berlindung di balik jaket masing-masing dan tangan terbungkus di dalam. Menggigil. Beberapa kali curi-curi kesempatan, menghilangkan rasa dingin. Menangkap momen-momen syahdu dari Prau.
Ini betulan indah lho.
| Duduk di spot yang anginnya ga heboh amat, dapet pemandangan beginian. |
| Si Duo kesayangan. Sindoro Sumbing yang belum sempat jadi tempat main. |
| Surya Pagi, bukan Surya Citra Televisi yaa |
Semakin tua, gue sadar, gue ga lebih dari butiran debu buat alam semesta yang udah Tuhan cipta. Gue tahu masih banyak sekali salah-salah yang selalu gue buat dan terus gue ulang. Mengeluh tentang banyak hal. Merengek minta ini dan itu ga kenal waktu. Sampai pernah menyerah dan bilang bahwa sepertinya ada yang salah dengan takdir gue.
Tapi, di saat bersamaan, hati dan otak gue kerja sama menyadari hal lain yang cukup prinsipal. Gue hidup di dunia ini pasti ada misinya. Punya tujuan. Soalnya gue manusia. Kutu aja ada gunanya. Apalagi gue.
Mungkin, kalau gue lagi ga karuan, gue cuma perlu jalan-jalan sebentar seperti ini. Biar otak warasnya balik lagi dan siap buat menjalankan misi. Jadi makhluk berguna.
Datang ke tempat tinggi, menyediakan lebih banyak waktu untuk berekleksi.
Udah gitu aja.
--
Buat si cupu turun gunung macam gue ini, jalur pulang yang dipilih Reza bikin sebel. Gue ga suka Patak Banteng. Sungguh T.T
Gue harus bergantung sama Tomi selama perjalanan, untung dia sabar banget. Makasih lho, Tom. Jadi tahu kan kenapa di Gede gue harus sama Alfa dan di Ciremai gue harus sama Yudha.
Ini juga jadi cerita paling ga berstruktur jalan-jalannya Ria. Tapi gapapa. Perjalanan kali ini terlalu sayang untuk dilewatkan. Drama sejak berangkat aja udah bikin tegang dan menantang, bisa jadi judul baru malah, "Mengejar Bus di Kota Jakarta". Terus drama selanjutnya, "Aku ditinggal di Rest Area". Oh satu lagi, "Niat Kemping Ceria, Hapeku Hilang Entah di Mana".
Haha,
What a Day!
R.
Lebih dari setahun yang lalu aku datang ke Kota Kembang yang terkenal itu. Menuntaskan kewajiban dari kantor untuk mengikuti sebuah workshop kreatif bersama beberapa teman. Seperti biasanya, aku hanya seorang wanita di antara enam lelaki lainnya.
Di hari ke dua workshop, kami bisa masuk lebih siang. Pagi itu aku manfaatkan untuk berolahraga. Menikmati jalanan Bandung untuk pertama kalinya seorang diri di pagi hari. Membiarkan sunyi menyergap dan kedinginan menusuk pori-pori. Ada sealbum lagu Mocca yang menemani dan kamera yang kugantung di leher.
Ah, ternyata pagi itu tidaklah terlalu buruk. Aku masih bisa tersenyum lebar. Acak tapi cukup menyenanangkan. Tersenyum pada petugas kebersihan yang sedang rehat di bawah pohon rindang, pada bapak yang sedang menyapu di halaman rumah besar, pada sepasang ibu dan anak yang akan menyebrang jalan, pada seorang supir yang sedang parkir di pinggir jalan, bahkan pada pohon mati yang masih tetap terlihat gagah di pojok jalan Cipaganti. Kemudian aku ingat sebuah lagu dari Lala Karmela, Malam Sunyi di Cipaganti.
Di hari ke dua workshop, kami bisa masuk lebih siang. Pagi itu aku manfaatkan untuk berolahraga. Menikmati jalanan Bandung untuk pertama kalinya seorang diri di pagi hari. Membiarkan sunyi menyergap dan kedinginan menusuk pori-pori. Ada sealbum lagu Mocca yang menemani dan kamera yang kugantung di leher.
Ah, ternyata pagi itu tidaklah terlalu buruk. Aku masih bisa tersenyum lebar. Acak tapi cukup menyenanangkan. Tersenyum pada petugas kebersihan yang sedang rehat di bawah pohon rindang, pada bapak yang sedang menyapu di halaman rumah besar, pada sepasang ibu dan anak yang akan menyebrang jalan, pada seorang supir yang sedang parkir di pinggir jalan, bahkan pada pohon mati yang masih tetap terlihat gagah di pojok jalan Cipaganti. Kemudian aku ingat sebuah lagu dari Lala Karmela, Malam Sunyi di Cipaganti.
| Dari dorm tempat nginap, Jepang. 2014 |
| Ikutan datang ke Shrine. 2014 |
Foto adalah racun pertama buat saya tentang suatu petualangan ke sebuah tempat baru, kemudian cerita di baliknya, atau kejadian yang terjadi selanjutnya di tempat itu. Tempat baru yang memang dengan sengaja saya datangi. Memanfaatkan juga akses yang mudah dalam mendapatkan buku baru atau majalah baru dengan konten travel di tempat kerja. Semakin menambah daftar destinasi yang ingin sekali suatu hari nanti saya datangi.
Secara random, akan selalu ada foto di setiap saya berjalan. Baik berupa foto yang asal ambil sembari lewat di atas kendaraan atau foto yang sengaja diambil dengan persiapan matang seputar sudut pandang dan komposisi. Meski kebanyakan saat ini masih seringkali terinspirasi karena orang lain, tapi jujur saja saya tak pernah bisa dapat foto persis seperti foto milik orang lain. Yang kemudian didapatkan justru gambar lain yang barangkali tak menarik bagi mereka. Tapi itu memori saya bersama sebuah ruang dan waktu.
| Pertama kali ikut pendakian. Pertama kali juga bawa kamera besar. 2011 |
![]() |
| Perjalanan pendakian selanjutnya setelah Papandayan. 2012 |
![]() |
| Melihat pesonanya dari jauh. Sore itu terkagum-kagum dari jauh. 2012 |
| Ketika masih sering duduk di perpustakaan. Mencari warta. 2012 |
![]() |
| Curug Cilember. 2013 |
![]() |
| Pertama kali ke Moko, Bandung, ketika jalanan masih alami dan berdebu. Entah lupa tahun berapa. |
| Tempat melarikan diri. Jauh sampai ke Pantai Pandawa, Bali. 201 |
![]() |
| Oh jadi ini pemandangan matahari terbit di Sikunir. 2016 |
![]() |
| Salah satu savannah di Sumba Barat. 2017 |
Mau makasih dulu buat PTI yang sudah mengajak aku pergi dari Jakarta menuju Jogja :)
Selamat datang di liputan Jelajah Museum edisi #Jakarta!
Jalannya sebetulnya sudah beberapa bulan lalu, tapi baru rilis sekarang akhirnya. Thanks buat Galih yang berkatnya kita jadi juga jelajah museum. Jadi fotografer ala-ala bareng Agist demi tangung jawab ke orang yang udah endorse. Kesempatan kali ini ga apa-apa dua tempat dulu saja. Nanti next-nya akan ada lagi museum yang kita datangi ya. Ok. Foto di atas pembuka yaaaa. Pertanda bahwa hari itu memang sungguh cerah. Berlebihan bahkan.
Museum Taman Prasasti
Awalnya belum tahu sama sekali apa dan gimana museum ini. Ternyata pas sampai di dalamnya isinya makam! Well.. ternyata memang begitu adanya. Museum yang terletak di Jalan Tanah Abang No. 1, Jakarta Pusat ini adalah cagar budaya peninggalan masa koloial Belanda. Fungsi awalnya sebagai pemakaman umum bernama Kebon Jahe Kober seluas 5,5 ha dan dibangun tahun 1795 untuk menggantikan kuburan lain di samping gereja Nieuw Hollandsche Kerk, sekarang Museum Wayang, yang sudah penuh.
Pantas saja ya kalau isinya koleksi nisan-nisan dari masa dahulu kala. Tapi, berdasarkan sumber yang dibaca, luasnya museum ini kian menyusut karena perkembangan kota Jakarta. Sekarang luasnya hanya 1.3 ha saja lho!
Nah, dari semua isi di museum ini yang paling saya tahu ya cuma nisan dengan nama Soe Hok Gie. Itu lho aktivis muda di era-nya Pak Karno dan Pak Harto yang meninggalnya di Gunung Semeru.
Secara kenyamanan, kita bisa lihat-lihat prasasti dengan tenang sih karena memang cenderung sepi. Mungkin karena bentuknya pemakaman juga kali ya, jadi agak jarang dikunjungi. Waktu itu saya lihat-lihat sendiri tanpa Guide. Tapi, kalau mau ada petugas yang menemani untuk ditanya-tanya bisa kok. Biaya masuknya hanya Rp 5.000 saja.
Untuk hunting foto ala-ala, tempat ini juga cukup bagus. Explore angle dan beberapa prasasti sebagai foreground akan menghasilkan gambar yang bagus.
| Nih, foto selfie kita abis muter-muter keringetan. |
Lanjut ke museum yang ke dua. Karena jaraknya tidak terlalu jauh. Kita jalan kaki sampai ke Museum Nasional sekalian menikmati Jakarta yang lengang! Daerah sini memang banyak pohon rindang dan jalan trotoarnya membuat nyaman pedestrian. Tembus-tembus di samping Museum Nasional Indonesia.
Akhirnya ke sini lagi! Terakhir waktu SD. Sungguh jeda waktu yang lama ya. Museum yang dikenal dengan nama lain Museum Gajah ini terletak di Jl. Medan Merdeka Barat No.12, Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10110. Seberangnya MONAS. Akses ke sini dengan transportasi umum juga mudah, pakai Trans Jakarta saja. Ada haltenya persis di depan Museum.
Seiring perkembangan jaman pengelolaan museum semakin canggih terutama khusus untuk museum ini. Kita juga bisa kunjungan virtual ternyata dari website-nya. Hehe sungguh norak saya baru tahu belakangan ini setelah ke sana.
Biaya masuk untuk dewasa Rp 5.000. Sepertinya angka itu jadi seragam deh untuk kawasan seperti museum gitu. Ah iya, foto hits ala anak Instagram juga jadi mandatori setiap kali kunjungan ke sana.
| tetiba hujan deras setelah terik! |
Setelah senang sekaligus kelelahan dan kelaparan, saya, Agist dan Galih pulang ke rumah masing-masing. Bersiap lagi untuk hari esok yang isinya kerja dan kerja.
Awal-awal semester di saat masih bareng dengan mereka di setiap mata kuliah sebelum akhirnya mencar di semester tua, kita jalan-jalan bareng semacam piknik keluarga ke Jungleland! Dulu Jungleland masih baru dibuka, hanya ada 3 wahana yang siap untuk dipakai. Kalau sekarang mungkin sudah lengkap ya :)
| Dulu masih 75K saja, antrinya pun ga lama. Karena masih sepi! |
| Tempat pertama yang dimasuki. |
| Sebelah kiri dulu belum nikah, sekarang udah punya anak 1. |
| They are Jamin and Erlita. |
| yang paling depan, Ms. Nova. I adore her, so much! |
| Beneran piknik dong, bawa nasi bungkus :) |
| Foto terlengkap dari yang ada... |
you can be a good person, if your friends are good person. you can be a good person, even your friends are not. it's all about you. because basically you are a good person
R.
Mari awali dengan bersyukur karena mendapatkan kesempatan (segalanya) untuk bergabung dalam perjalan ini, Termasuk dalam salah satu tujuan yang ditetapkan oleh panitia meski bisa memilih ikut berjalan di tengah malam atau tetap bergelung mesra dengan guling dan selimut di kala dingin begitu dekat dengan nadi. Sikunir, berada di ketinggian 2.263 mdpl terletak di Wonosobo, Jawa Timur. Tempat yang banyak orang bicarakan tentang betapa indahnya melihat matahari terbit dari sana. Pantas saja selalu ramai manusia, apalagi dengan kondisi jalan yang sudah cukup baik dan ketinggian yang tidak terlalu ekstrem bagi pemula yang belum terbiasa mendaki.
Sesuai informasi yang saya baca kemudian setelah saya ke sana, Sikunir mulai dipopulerkan tahun 1982 oleh pemandu lokal dan mulai menjadi panduan wisata dua tahun kemudian. Ketika sekitaran puncak sudah mulai terang karena cahaya matahari, kita bisa lihat pemandangan langit pengunungan Dieng dan Gunung Sindoro.
Sebelum menuju puncak, tempat untuk melihat pemandangan matahari terbit, ada pondokan dengan tanah datar cukup luas. Kalau lebih sepi bisa dimanfaatkan untuk menunaikan ibadah Sholat Shubuh sebelum menunggu waktu yg paling pas ketika fajar keluar. Jangan sampai terlena :)
Posisi berdiam memang menentukan seberapa pas jarak pandang kita untuk menikmati pemandangan. Kalau memang niat sekali untuk mengabadikan peristiwa terbitnya matahari, maka siap-siap membawa tripod untuk menopang kamera.
Matahari beranjak keluar, setelah saya puas beberapa kali mengambil gambar, saya memutuskan untuk segera turun menyusul salah satu teman yang tidak bisa naik karena kakinya keram dan menunggu di pondokan bawah. Ternyata ketika saya sampai di pondokan, teman saya sudah melanjutkan perjalanan turun ke tempat parkiran mobil. Jadilah saya terus turun bersama dua orang teman lainnya dari atas tadi.
Kalau untuk saya sih ya justru saya merasa pemandangan jauh lebih bisa dinikmati ketika saya menuruni Sikunir. Bias matahari yang sudah mulai meninggi menelusup lewat ranting dan daun, memberikan warna hangat di sepanjang perjalanan dan sekeliling bukit. Ternyata jalanan yang saya lewati pagi buta tadi begitu indah ketika sudah terang.
Ada dua jalur untuk naik dan turun, tapi kita bisa pilih yang mana saja. Keduanya masih tergolong sangat aman menurut saya. Pada beberapa titik ada semacam tali pembatas sekaligus bisa digunakan untuk berpegangan. Tapi, berhati-hati selalu tidaklah pernah salah.
Dan...mari kita tutup lagi dengan ucapan syukur bahwa saya kembali ke rumah dengan selamat dari perjalanan menyenangkan ini :)
Sesuai informasi yang saya baca kemudian setelah saya ke sana, Sikunir mulai dipopulerkan tahun 1982 oleh pemandu lokal dan mulai menjadi panduan wisata dua tahun kemudian. Ketika sekitaran puncak sudah mulai terang karena cahaya matahari, kita bisa lihat pemandangan langit pengunungan Dieng dan Gunung Sindoro.
![]() |
| berpayung awan |
Posisi berdiam memang menentukan seberapa pas jarak pandang kita untuk menikmati pemandangan. Kalau memang niat sekali untuk mengabadikan peristiwa terbitnya matahari, maka siap-siap membawa tripod untuk menopang kamera.
![]() |
| Sebenarnya langit sebelum terang juga bagus, karena banyak sekali bintangnya. Saya jadi ingat langit yang penuh bintang di beberapa kesempatan lalu. |
Matahari beranjak keluar, setelah saya puas beberapa kali mengambil gambar, saya memutuskan untuk segera turun menyusul salah satu teman yang tidak bisa naik karena kakinya keram dan menunggu di pondokan bawah. Ternyata ketika saya sampai di pondokan, teman saya sudah melanjutkan perjalanan turun ke tempat parkiran mobil. Jadilah saya terus turun bersama dua orang teman lainnya dari atas tadi.
![]() |
| kurang lebih sama dengan matahari yang sering saya lihat pagi hari di Jakarta atau Bogor. |
![]() |
| tapi mungkin lebih syahdu saja karena udara jauh lebih dingin dan tidak dengan orang yang dikenal |
Kalau untuk saya sih ya justru saya merasa pemandangan jauh lebih bisa dinikmati ketika saya menuruni Sikunir. Bias matahari yang sudah mulai meninggi menelusup lewat ranting dan daun, memberikan warna hangat di sepanjang perjalanan dan sekeliling bukit. Ternyata jalanan yang saya lewati pagi buta tadi begitu indah ketika sudah terang.
![]() |
| blue meet brown. hi! |
![]() |
| green hill |
![]() |
| one of best view, I think :) |
![]() |
| you can find this image in my ig account too, hehe |
Ada dua jalur untuk naik dan turun, tapi kita bisa pilih yang mana saja. Keduanya masih tergolong sangat aman menurut saya. Pada beberapa titik ada semacam tali pembatas sekaligus bisa digunakan untuk berpegangan. Tapi, berhati-hati selalu tidaklah pernah salah.
Dan...mari kita tutup lagi dengan ucapan syukur bahwa saya kembali ke rumah dengan selamat dari perjalanan menyenangkan ini :)
ps:
Saya pribadi kalau boleh berharap lagi, ingin sekali kembali ke sini tapi ketika tidak sepadat saat saya datang pertama kali ini. Keadaan yang lebih senyap akan jauh lebih menambah keindahan untuk sekedar duduk-duduk dan menikmati alam ketimbang ramai dan akhirnya malah tidak bisa menikmati apapun. Mungkin memang sebaiknya bukan di saat ada acara besar seperti DCF atau agenda wisata lain, pilihan waktunya bisa disesuaikan dengan kebutuhan .
![]() |
| jumlah ini belum seberapa dibanding jumlah keseluruhan. haha |
![]() |
| tambahan: [katanya] Sindoro dari Gardu Pandang |
Saya pernah baca suatu artikel di salah satu majalah, tapi saya lupa judulnya apa. Tentang seorang editor National Geographic yang setiap harinya harus menyeleksi ribuan gambar dari para fotografer, dan menjadikannya foto pilihan yang sesuai dengan artikel atau informasi yg ingin disampaikan. Foto tersebut harus melalui banyak sekali pertimbangan, terutama sampai mana ia mampu menggambarkan apa yang sebenarnya informasi harus sampai kepada para pembaca.
Kadang, saya yang sangat minim keahlian di bidang fotografi melihat foto yang dipilih dan akhirnya dipampang sebagai foto penunjang di sebuah artikel adalah foto yang biasa saja. Tidak indah, penuh teknik pencahayaan tingkat tinggi, pengaturan point of view yg khusus, atau lainnya. Tapi saya sadari satu hal, kekuatan foto itu justru timbul ketika saya membaca apa yang kemudian disampaikan dalam artikel atau judulnya. Foto itu seperti bicara panjang lebar pada saya. Mengantarkan saya langsung ke tempat kejadian di mana peristiwa itu berlangsung. Mungkin foto tersebut justru dengan lengkap menyajikan apa yang perlu disampaikan, ketepatan peristiwa yang terjadi, dan karakter serta jiwa yang semestinya ada di dalam suatu gambar.
Pada akhirnya, belakangan saya tidak terlalu ambil pusing dengan hasil yang saya punya di kamera saya selama saya melakukan perjalanan. Meski tidak saya pungkiri saya tetaplah penikmat keindahan dalam "sebuah momen yang terperangkap dalam satu kali jepret". Kamera saya bahkan bisa dipakai oleh orang lain untuk memoto apapun yang mereka mau. Saya tidak lagi menghapus banyak foto yang tidak fokkus atau terpotong. Meski beberapa tetap saya hapus jika terlalu tidak karuan hasilnya dan jika sudah terlalu banyak memenuhi storage.
Tapi saya belajar satu hal dari ini, bukan dilihat bagus saja itu cukup. Yang belum sempurna, justru barangkali menyimpan banyak cerita dan jalan baru untuk membuatnya lebih baik dari sudut pandang yang berbeda.
*yang masih bingung untuk seleksi foto yang mau diposting dan diceritakan
:)
Kadang, saya yang sangat minim keahlian di bidang fotografi melihat foto yang dipilih dan akhirnya dipampang sebagai foto penunjang di sebuah artikel adalah foto yang biasa saja. Tidak indah, penuh teknik pencahayaan tingkat tinggi, pengaturan point of view yg khusus, atau lainnya. Tapi saya sadari satu hal, kekuatan foto itu justru timbul ketika saya membaca apa yang kemudian disampaikan dalam artikel atau judulnya. Foto itu seperti bicara panjang lebar pada saya. Mengantarkan saya langsung ke tempat kejadian di mana peristiwa itu berlangsung. Mungkin foto tersebut justru dengan lengkap menyajikan apa yang perlu disampaikan, ketepatan peristiwa yang terjadi, dan karakter serta jiwa yang semestinya ada di dalam suatu gambar.
Pada akhirnya, belakangan saya tidak terlalu ambil pusing dengan hasil yang saya punya di kamera saya selama saya melakukan perjalanan. Meski tidak saya pungkiri saya tetaplah penikmat keindahan dalam "sebuah momen yang terperangkap dalam satu kali jepret". Kamera saya bahkan bisa dipakai oleh orang lain untuk memoto apapun yang mereka mau. Saya tidak lagi menghapus banyak foto yang tidak fokkus atau terpotong. Meski beberapa tetap saya hapus jika terlalu tidak karuan hasilnya dan jika sudah terlalu banyak memenuhi storage.
Tapi saya belajar satu hal dari ini, bukan dilihat bagus saja itu cukup. Yang belum sempurna, justru barangkali menyimpan banyak cerita dan jalan baru untuk membuatnya lebih baik dari sudut pandang yang berbeda.
*yang masih bingung untuk seleksi foto yang mau diposting dan diceritakan
:)
Perjalanan kali ini super duper baper.
Perut gampang laper.
Emosi gampang nyamber.
Perjalanan kali ini nano nano rasanya.
Susah senang tapi sama-sama.
Masih sama Rendy, papa, mama.
Perjalanan kali banyak sekali pelajaran.
Tentang kesendirian sampai ilmu pernikahan.
Tentang kegalauan sampai alternatif jawaban.
Perjalanan kali tapi sayangnya masih ada kamu.
Menari-nari di kepala dan halaman-halaman buku.
Di jendela bahkan sampai secuil batu.
---
Sudah pulang ke Jakarta,
maunya bercerita satu-satu.
Selamat menunggu.
Perut gampang laper.
Emosi gampang nyamber.
Perjalanan kali ini nano nano rasanya.
Susah senang tapi sama-sama.
Masih sama Rendy, papa, mama.
Perjalanan kali banyak sekali pelajaran.
Tentang kesendirian sampai ilmu pernikahan.
Tentang kegalauan sampai alternatif jawaban.
Perjalanan kali tapi sayangnya masih ada kamu.
Menari-nari di kepala dan halaman-halaman buku.
Di jendela bahkan sampai secuil batu.
---
Sudah pulang ke Jakarta,
maunya bercerita satu-satu.
Selamat menunggu.

Rinjani, 2015 - It’s funny how even friendships you thought were for life, change in unexpected ways. We were best friends and then we grew up and grew apart. I miss you though. I miss being able to fight with you and sort out “issues” then and there.I miss the time when we didn’t really have to worry about boundaries and offending each other. Now we are too grown up for those things, right? Now we are supposed to give each other space, we walk on egg shells around each other. You don’t ask me anything any more for fear of upsetting me.You don’t understand me and now you don’t even want to, you don’t even try. I’m too much for you to handle now. We were best friends and then we grew up; I got lost in depression and you made your world in which I don't fit any longer.And to say all this aloud, makes me sound like a loser, like I’m jealous of you. Because you seem to have everything I don’t. But I’m not jealous. I just miss you, the old you. I miss us. And I’m mad about the fact that we can no longer talk about it, because you won’t ever understand what I want to say now. I miss you.
Bandung, 22-23 Agustus 2015
Kenal sama kamu membuat saya lebih ekstrim dan random dalam mengiyakan ajakan untuk pergi ke tempat yang tidak biasanya didatangi. Iya, saya memang suka kemana saja, pergi menjauh dari rutinitas kerja dan kuliah selagi bisa.
--------------------------------
Kita siap-siap berangkat pagi dari halaman kantor, menumpang tempat menunggu jemputan (red: Gojek). Seolah sudah berpengalaman, kita turun di suatu tempat di dekat Poin Square, Lebak Bulus. Meyakini bahwa bus arah ke Bandung akan lewat sana.
Ternyata kita harus berputar jauh sekali untuk bisa ketemu bisnya dan dapat tempat duduk. Bersyukurnya adalah ketika kita tidak harus berebut dan dapat bus yang nyaman. Tarif bus ternyata sudah naik dari yang terakhir kali saya pergi tahun lalu. Tujuan yang sama dan armada bus yang sama. Baiklah, BBM memang sudah tidak seperti dulu lagi. Dengan rute Lebak Bulus-Bandung menggunakan Primajasa dikenakan tarif Rp 75.000 (sekalian cek di sini).
Dimulai dari basa-basi obrolan gak penting sampai akhirnya kita sibuk sama headset masing-masing dan tertidur di perjalanan. Setelahnya terbangun tepat sebelum ke luar pintu tol Pasir Koja. Daaaan sampailah kita di Terminal Leuwi Panjang. Lagi-lagi berputar untuk beli minum dan cari jalan keluar untuk cari angkutan semacam Bus TransJakarta gitu. Karena waktu masih pagi, sedangkan kita janjian dengan teman-teman Tumblr pukul 2 nanti maka diputuskan untuk sedikit melakukan penjelajahan di Bandung. Here we go..
Bermain sambail lihat-lihat kampus orang..
![]() | ||
| Soto Enak Pengganjal Perut depan Salman. Brunch. Sebelum beneran "jalan-jalan" pakai kaki.
|
![]() | ||||||||||
Es Campur Segar.
|
![]() |
| Biar bukan anak SR, tapi punya teman anak SR dan bisa numpang foto di sini itu sangat menyenangkan. |
![]() |
| Penampakan bangungan sekitaran Salman. |
![]() |
| Semacam Koperasi kali ya, ada di sebelah kantin di sebelah masjid. |
![]() |
| Ketika kamu sibuk pilih belanjaan lain, saya pilih gantungan kunci ini. Anggap saja oleh-oleh :) |
![]() |
| lari-lari depan kantin. |
![]() |
| Kamu yang selalu oks! |
![]() |
| jadwal Kantin. |
![]() |
| Buat saya ini jadi pemandangan yg sulit untuk dideskripsikan. |
![]() |
ikut Foto.![]() |
Menuju Meeting Point bertemu dan dijemput oleh rekanan..
![]() |
| Berasa lagi di mana gituuu.. |
![]() |
| Neng, ga boleh galau di angkot. Malu sama ibu-ibu sebelah. |
![]() |
| akhirnya sampai di tempat janjian. Let me take a photo first. |
![]() |
| Maze. |
![]() |
| taraaaaa \(^^)/ |
![]() |
| Masih suasana Agustus mungkin, jadi masih ada kegiatan perlombaan. |
![]() |
| Bongkar muatan mobil. |
![]() |
| padahal, cuma semalem doang. Tapi rempong bangeeeet Cyiin :D |
![]() |
| Start walking. |
![]() |
| di belakang mba-mba perkasa. haha |
![]() |
| kemaraaaauuuuu |
![]() |
| Sendu. Syahdu. |
![]() | ||
masih jauh, di atas sana. Diambil gambarnya dari Warung Daweung.
|
![]() |
| Sampai tempat pendaftaran. |
![]() |
| Ada Musholla. Ibadahnya jadi tetap bisa dijaga ;) |
![]() |
| keadaan di mana masih sepi. |
![]() |
| tambahan informasi |
![]() |
| Persiapan pembuatan tenda. |
![]() |
| Santai. Tapi beneran deh, tiduran atau sekedar duduk-duduk di Hammock itu rasanyaaaaaa menyenagkan! |
![]() |
| Si Kriwil yang menarik perhatian. Ceritanya, saat semua sudah rapi, anak ini sibuk main di sekitar tenda kami. Terus diajakin ngobrol sama saya tapi sayanya dicuekin. Dia lagi serius. Serius main. |
![]() |
| Menjelang senja tapi mendung. |
![]() |
| Masak untuk makan malam :) |
![]() |
| Di saat yg lain sedang sesi curhat. |
![]() |
| “aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada” ― Sapardi Djoko Damono |
![]() |
| iya mendung, plus sendiri, plus ga jelas rasanya hati. |
![]() |
| Tapi gimanapun, Bandung tetap indah :) |
dan setelah kita melakukan misi pembuatan video untuk Nadira, kita sempatkan untuk foto bersama
![]() |
| Kita foto bareng :) |
![]() |
| tuh kan, udah banyak yg masak. |
![]() |
| Kamu serius amat ;p |
![]() |
| menggodaaaaaaa. Ya Tuhan berapa banyak zat warna di dalamnya >,< |
![]() |
| Telur Orek. |
![]() |
| my sandwiches! tapi sayang, satupun dari lembar roti itu ga ada yg masuk perut sama sekali. |
Ketika selesai haha hihi sama teman-teman dan mereka sibuk dengan kegiatan mereka. Saya menghilang. Wusss. Untuk waktu yang tidak saya prediksi. Menikmati pagi yang begitu indah di bulang Agustus. Sekali-kali jalan sendiri di tengah hutan sambil hunting foto dan sedikit lari pagi sebelumnya.
![]() |
| semakin saya berusaha mendekatkan diri, semakin banyak yg jadi halangan. Semakin banyak yg saya pertanyakan. |
![]() |
| Sendiri di tengah hutan pinus. Menikmati cahaya pagi dan udara segar. Jauh dari Jakarta. |
![]() |
| Memutuskan memisahkan diri dari rombongan dan siap bertualang. |
![]() |
| HOPE |
![]() |
| the best morning in August :) |
![]() |
| :) |
![]() |
| Papan Informasi. Adanya di pintu masuk sebelah Barat. |
![]() |
| Penunjuk jalan menuju Patahan Lembang. |
![]() |
| Mengikuti dua pasangan di depan. Nah saya sendirian. Pasangannya mana? #eh |
![]() |
| keep walking, as long as you beside me, we'll fine. #eaaaa |
![]() |
| Pemandangan dari Patahan Lembang (1) |
![]() |
| Pemandangan dari Patahan Lembang (2) |
![]() |
| Pemandangan dari Patahan Lembang (3) |
![]() |
| Pemandangan dari Patahan Lembang (4) |
Setelah kembali dari petualangan, saya kembali ke tenda. Mereka sudah siap-siap pulang. Tenda sudah rapi dilipat dan siap berfoto untuk sedikit jejak kenangan di masa depan.
![]() |
| Bunga cantik di sebelah papan. |
![]() |
| Prasasti peresmian Puncak Bintang. |
Setelah kumpul semua, satu-satu saya ajak kenalan dan seperti inilah kami.
![]() |
| Teman-teman baru dari Kota Kembang :) |
Keterangan :
Foto kita berdua. Annah-Ranting Kecil. Devi-Teteh Kalem. Tami-Cewek Tomboy. Eka-Yang Punya Hp Bagus. Yolanda-Partner Tomboy. Iid-Supir Ganteng. Brian-Seleb Pria. Max-Seleb Wanita. Ria. Dewi-Koki Cantik Ahli Gizi. Indira-Drawer Galau. Yudith-Koki Baik Hati. Rere-Gadis Keturunan Arab. Lidya-Ekstras. Riviana-Dokter Muda. Pipih-Ekstras. Mimi-Temennya Aziz dan Adit.
Saya senang bisa ke sini lagi. Senang bisa jalan-jalan sendiri sampai Patahan Lembang, Senang diajak main ke ITB. Senang jajan sama kamu. Senang juga dibolehkan ikut sama kamu di acaramu. Haha
dan pastinya aku senang temenan sama kamu.
ps:
sehat-sehat selalu ya kamu yg sekarang sudah di Bandung :)
Love,
R.
































































































