Kamu menyebutnya "wanita itu", sebagai kata ganti nama yang enggan kau sebut. Tidak apa, aku membawakan diriku dan namaku. Kamu bebas memanggilku kapan saja kamu mau. Berharap kamu tidak pernah bosan dengan namaku.
--
Kapan saja.
--
Tidak pernah bosan.
Hampir saja aku menjadi "wanita itu" dalam sejarah hidupmu. Besok lusa barangkali aku harus membuka banyak arsip di entah berapa laci kalau mau mencari namaku. Jika semua itu benar terjadi-jika aku menjadi wanita itu. Tapi aku di sini. Dengan diri dan namaku. Aku tidak akan pernah jadi wanita itu. Karenanya tidak ada arsip yang mesti kau atau aku cari.
--
Banyak arsip.
--
Mencari di laci.
Wanita itu hanya akan menjadi sebuah titik. Sedang namaku akan terus mengalir menjadi kata, kemudian, kalimat, berubah paragraf, dan bermuara pada kita.
Semuanya bisa kau baca.
--
Hanya mau atau tidak saja.
Setelah ingin melupakan berharap merasakan rindu adalah hal yang begitu egois didengar. Kenapa saking banyaknya yang ingin kita lakukan, banyak hal juga yang harus dikorbankan. Rasanya rindu tidak akan pernah pantas untuk mereka yang memang sama sekali tidak menginginkannya. Terlalu indah bagi jiwa-jiwa yang lantas memilih pergi ketimbang tetap tinggal. Lalu untuk apa esensi merindu. Dia memang sudah memilih.
Kata temanku, puaskan saja penasaranmu akan sebuah kehilangan dan kemudian reguk rindu sepuas-puasnya lantas kembali bertemu dan bercinta sesudahnya. Tidak sesederhana itu. Dari urusan merindu bisa menjadi lebih rumit ketimbang wol yang carut marut di dalam laci meja. Pun bercinta bukan penyelesaian atas segala resah yang dirasa.
Kata tuanku, bergantung pada sesuatu yang tidak menghasilkan juga merupakan pekerjaan sia-sia. Tidak produktif. Tentu saja, tidak akan pernah ada pemasukan bagi yang tidak berusaha. Bahkan usaha saja tidak cukup, kata-kata "lebih keras" harus ada mengikutinya di belakang. Mau sekeras seperti kuda berlari, berpacu dengan Hyena (?). Lebih baik kamu tenggelamkan saja aku ke dasar Palung Mariana.
![]() |
| from here |
Merindu seperti tiara yang hanya pantas dikenakan para putri. Tidak disanding begitu saja bersama karung lusuh yang tidak tahu isinya apa. Karena seharusnya membiaskan garis tawa bukan perih di ujung senja.
Kalau aku jatuh cinta, apakah aku menjadi kalah?
Tidak pernah ada batas berupa dinding di antara kita sebelumnya. Bukan juga tirai penghalang mata.
Lalu, apakah jika aku jatuh cinta lantas aku menjadi kalah karenanya?
Lalu ketika Putri Duyung bertanya pada lelaki itu, apakah itu cinta?
Lelaki itu menjawab, cinta adalah berpasrah dan percaya. Sekaligus kau menyerah. Atas segalanya.
Menyedikan sekali mereka.
Tapi siang ini aku ingin melantangkan suara. Berkata bahwa aku jatuh cinta.
Iya, akuuuuuuuu
cintaaaaaa
kamuuuuuu
Akan aku biarkan suaraku bergema, saling bersahutan di tebing-tebing antara kita. Aku tahu kamu mendengar.
Tidak pernah ada batas berupa dinding di antara kita sebelumnya. Bukan juga tirai penghalang mata.
Lalu, apakah jika aku jatuh cinta lantas aku menjadi kalah karenanya?
Lalu ketika Putri Duyung bertanya pada lelaki itu, apakah itu cinta?
Lelaki itu menjawab, cinta adalah berpasrah dan percaya. Sekaligus kau menyerah. Atas segalanya.
Menyedikan sekali mereka.
Tapi siang ini aku ingin melantangkan suara. Berkata bahwa aku jatuh cinta.
Iya, akuuuuuuuu
cintaaaaaa
kamuuuuuu
Akan aku biarkan suaraku bergema, saling bersahutan di tebing-tebing antara kita. Aku tahu kamu mendengar.
Kalau tidak ditulis dengan tangan, rasanya akan ada yang kurang. Selalu.
Kalau tidak pernah kau letakkan tanganmu di atas tanganku, rasanya tidak akan pernah ada kupu-kupu liar di perut. Begitu.
Kalau tidak pernah lihat ada dua garis yang melintang sama, rasanya tidak akan ada uji coba. Agaknya.
Semuanya dari tangan.
Aku percaya semuanya dimulai dari tangan.
--
Mari, kubuatkan lagi daftar langkah yang mesti kau jalani bersamaku. Kali ini, bersemangatlah!
Mengeja
Menghapus
Mengeja lagi
Kembali menghapus
Begitu seterusnya tanpa jeda
Berapa lama
Entah, sudah kali keberapa
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Menggantung di langit lidah
Kata tertahan kemudian tertelan
Apa saja yg perlu kita ingat
Apa saja yang perlu kita buang
.
.
Meraba cermin
Hanya ada kamu di sana
Atau aku sesekali melongok dari balik punggung
Menyamarkan rupa dalam cahaya
Atau ikut bersama bayang dalam jelaga
Dan kemudian pergi kemana
.
.
.
Jangan tanya aku dengan hal-hal yang tidak kutahu jawabannya
Oh!
Atau mungkin aku hanya butuh waktu lebih banyak
Lalu semua akan terjawab
.
Sayang, waktu tidak memberi jeda untuk kita rehat barang sejenak.
Kamu lalai,
bersiaplah ucapkan good bye
Menghapus
Mengeja lagi
Kembali menghapus
Begitu seterusnya tanpa jeda
Berapa lama
Entah, sudah kali keberapa
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Menggantung di langit lidah
Kata tertahan kemudian tertelan
Apa saja yg perlu kita ingat
Apa saja yang perlu kita buang
.
.
Meraba cermin
Hanya ada kamu di sana
Atau aku sesekali melongok dari balik punggung
Menyamarkan rupa dalam cahaya
Atau ikut bersama bayang dalam jelaga
Dan kemudian pergi kemana
.
.
.
Jangan tanya aku dengan hal-hal yang tidak kutahu jawabannya
Oh!
Atau mungkin aku hanya butuh waktu lebih banyak
Lalu semua akan terjawab
.
Sayang, waktu tidak memberi jeda untuk kita rehat barang sejenak.
Kamu lalai,
bersiaplah ucapkan good bye
Jakarta,
Tempat aku bangun dan tidur seringkali di luar rencana
Dengan sifatnya air mampu menempati segala ruang sesuai bentuknya. Tidak perlu patah atau terpisah. Air akan melebar sesuai volumenya. Menyesuaikan rupa dan lingkungan sekitar. Air dengan pengelolaan terbaik akan menghasilkan kehidupan dan sebaliknya air yang dibiarkan begitu saja atau datang dengan kapasitas di luar batas akan menghancurkan dan sekaligus bisa meniadakan kehidupan.
Seperti filosofi kita punya rupa dalam nama. Ria akan membawamu dalam sebuah suka cita. Ria sekaligus bisa menghantarka duka tak berkesudahan menjadi lara. Perlakukan saja dia dengan bijaksana dan kasih akan datang dalam kamu punya semesta.
Seperti filosofi kita punya rupa dalam nama. Ria akan membawamu dalam sebuah suka cita. Ria sekaligus bisa menghantarka duka tak berkesudahan menjadi lara. Perlakukan saja dia dengan bijaksana dan kasih akan datang dalam kamu punya semesta.
Duduk acak di sembarang tempat. Rel rel mulai sepi. Gerbong mulai kosong. Jam berdentang tepat ketika suara terdengar lantang.
Wajah sendu, muram, tertunduk menahan kantuk. Ada wajah bersahabat tapi tetap dengan garis lelah tentu saja. Ada yg masih saja merah merona, karena bincang mesra dengan si dia.
Manggarai,
Menuju tengah malam berganti hari.
Sealbum Norah Jones
Sebotol besar air putih--sudah kosong
Setumpuk berkas berantakan
Setumpuk baju siap setrika
Sekumpulan kotak makan kosong di meja
Segitunya aku inget kamu tapi kamu gak ada
Pendingin ruangan
Langit kelam
Minggu dini hari yang beda
Tidak ada mimpi
Tidak ada yang perlu aku cari-cari
4:18 am
and I'm still awake
since yesterday
Sebotol besar air putih--sudah kosong
Setumpuk berkas berantakan
Setumpuk baju siap setrika
Sekumpulan kotak makan kosong di meja
Segitunya aku inget kamu tapi kamu gak ada
Pendingin ruangan
Langit kelam
Minggu dini hari yang beda
Tidak ada mimpi
Tidak ada yang perlu aku cari-cari
4:18 am
and I'm still awake
since yesterday
Cara malam membebaskanku dalam berpikir adalah dengan membuatku sungguh tak berdaya di siang harinya. Apa yang aku lakukan di siang hari tidak lebih dari sekedar mengisi perut, menunaikan tugas, lalu kembali pada mimpi. Kemudian sempurna terjaga dan terbebas dari mimpi berulang pada malamnya. Menjelang pagi dan mata tetap saja bergerak sempurna tanpa kantuk menggantung. Tidak perlu kafeina sebagai teman bertegur sapa. Aku cukup mandiri kali ini. Malam sudah memanggilku, dia sendiri yang datang sejak siang.
Banyak hal tersirat kemudian menjadi semacam sabit tanda tanya yang menggantung pada malam kepala. Di luar sana bulan juga hampir sabit. Kembali pada siklusnya. Apa apa yang kemudian menjadi bunga-bungan hiasan pemikiran malam ini alih-alih menyelesaikan segala macam kewajiban yang selalu tertunda adalah tentang hubungan kita.
Kalau saja semudah membalikkan telapak tangan dalam setian penyelesaian masalah, barangkali akal manusia tidak bisa terasah sedemikian rupa untuk level permasalahan yang lebih besar lagi nantinya. Hubungan ini tidaklah sehat kurasa. Aku tergantung padamu, begitupun sebaliknya. Kita tidak bisa melepas satu sama lain secara serampangan.
Cara malam membebaskanku adalah dengan membuatku tetap terjaga. Memberikan kesempatan untuk setiap celah terisi dengan jawaban-jawaban sakti pada setiap kali aku bertanya. Tentang seberapa produktif kah aku jika selalu saja meladenimu bicara dari Sabang sampai Merauke. Tentang seberapa efektif kah waktuku untuk menyelemi kalam Illah pada kitab. Tentang seberapa tuluskah aku pada Illah jika aku selalu saja mendikte inginku tentangmu pada-Nya. Tentang pantaskah kita melakukan cara ini untuk memuaskan keinginan kita. Tentang apa yang sudah kulakukan untuk kemajuan sebuah rumah yang sudah menaungiku tahunan lamanya. Dan juga tentang hidupku bersama mereka, sudah seberapa baikkah, sudah cukup baikkah, cukupkah, bekal aku kelak ketika pulang pada rumah yang lebih nyata.
Malam membebaskanku menerabas setiap kemungkinan pemikiran tanpa tabir.
Banyak hal tersirat kemudian menjadi semacam sabit tanda tanya yang menggantung pada malam kepala. Di luar sana bulan juga hampir sabit. Kembali pada siklusnya. Apa apa yang kemudian menjadi bunga-bungan hiasan pemikiran malam ini alih-alih menyelesaikan segala macam kewajiban yang selalu tertunda adalah tentang hubungan kita.
Kalau saja semudah membalikkan telapak tangan dalam setian penyelesaian masalah, barangkali akal manusia tidak bisa terasah sedemikian rupa untuk level permasalahan yang lebih besar lagi nantinya. Hubungan ini tidaklah sehat kurasa. Aku tergantung padamu, begitupun sebaliknya. Kita tidak bisa melepas satu sama lain secara serampangan.
Cara malam membebaskanku adalah dengan membuatku tetap terjaga. Memberikan kesempatan untuk setiap celah terisi dengan jawaban-jawaban sakti pada setiap kali aku bertanya. Tentang seberapa produktif kah aku jika selalu saja meladenimu bicara dari Sabang sampai Merauke. Tentang seberapa efektif kah waktuku untuk menyelemi kalam Illah pada kitab. Tentang seberapa tuluskah aku pada Illah jika aku selalu saja mendikte inginku tentangmu pada-Nya. Tentang pantaskah kita melakukan cara ini untuk memuaskan keinginan kita. Tentang apa yang sudah kulakukan untuk kemajuan sebuah rumah yang sudah menaungiku tahunan lamanya. Dan juga tentang hidupku bersama mereka, sudah seberapa baikkah, sudah cukup baikkah, cukupkah, bekal aku kelak ketika pulang pada rumah yang lebih nyata.
Malam membebaskanku menerabas setiap kemungkinan pemikiran tanpa tabir.
Pelajaran dari pasca kehilangan berturut-turut menimpa saya adalah justru dikuatkan oleh teman yang sungguh baik hati. Memberikan pandangannya dan menjadi catatan untuk saya. Kata-kata yang bikin saya ingat papa.
"kita boleh seneng-seneng, tapi tetep harus ingat diri setelahnya."Persis seperti apa yang dulu papa bilang. Wejangan lama yang belum ada pembaharuannya lagi sampai ini. Kita jadi jarang bicara. Menghindar satu sama lain dalam jeda.
ps:
Thanks, Nu!
Sederet kegiatan hari ini,
Menghabiskan tenaga dan hanya menyisakan sedikit imaji,
menjelang aku pergi ke mimpi.
Lantai putih,
Dinding putih,
suara putaran lagu dari Spotify yang tidak perlu dipilih.
Kilat cahaya,
Model peraga,
dan lembar kain aneka warna pada tubuh wanita.
Alih-alih mencari warta untuk pemenuh pinta,
Menikmati Jakarta yang masih lengang sejenak dari balik kaca,
Sembari berbincang dengan pria paruh baya berkaca mata.
Duduk di kemudi,
Bercerita bahwa mobilnya pernah dinaiki Habibie,
Aku? Menyimak dan sesekali menimpali.
Ah, Jakarta siang ini begitu terasa damai dan nyaman dipandang mata.
Melewati jalanan sepi tidak banyak salipan roda empat atau dua.
Mengetahui hunian macam apa untuk sang mantan kepala negara.
Lalu kembali pada studio rimbun sarat cahaya,
Sebagai penerang pada hasil nanti di figura,
dan buah aneka warna yang cantik sudah berderet di display tanpa kaca.
Beberapa kali datang dan pergi ke tempat yg sama,
Menyegarkan mata dari jenuh layar penuh berita.
Kemudian malam menyisakan sedikit waktu,
Seperti kesempatan yang ada tapi kemudian berlalu,
dan aku terlelap dalam senyum karenamu.
Pagi besok, duniaku bukan lagi di Jakarta.
ps:
Just before year end holiday
Menghabiskan tenaga dan hanya menyisakan sedikit imaji,
menjelang aku pergi ke mimpi.
Lantai putih,
Dinding putih,
suara putaran lagu dari Spotify yang tidak perlu dipilih.
Kilat cahaya,
Model peraga,
dan lembar kain aneka warna pada tubuh wanita.
Alih-alih mencari warta untuk pemenuh pinta,
Menikmati Jakarta yang masih lengang sejenak dari balik kaca,
Sembari berbincang dengan pria paruh baya berkaca mata.
Duduk di kemudi,
Bercerita bahwa mobilnya pernah dinaiki Habibie,
Aku? Menyimak dan sesekali menimpali.
Ah, Jakarta siang ini begitu terasa damai dan nyaman dipandang mata.
Melewati jalanan sepi tidak banyak salipan roda empat atau dua.
Mengetahui hunian macam apa untuk sang mantan kepala negara.
Lalu kembali pada studio rimbun sarat cahaya,
Sebagai penerang pada hasil nanti di figura,
dan buah aneka warna yang cantik sudah berderet di display tanpa kaca.
Beberapa kali datang dan pergi ke tempat yg sama,
Menyegarkan mata dari jenuh layar penuh berita.
Kemudian malam menyisakan sedikit waktu,
Seperti kesempatan yang ada tapi kemudian berlalu,
dan aku terlelap dalam senyum karenamu.
Pagi besok, duniaku bukan lagi di Jakarta.
ps:
Just before year end holiday
Whether it's traveling to place you've never been to before, discovering innovative ideas or taking a risk in business, you will find more excitement when you treat them as part of an adventure instead of a mere daily activities.
------------
Sudah berapa lama aku memutuskan untuk berkomitmen bersamamu? Tahun ini lima tahun sudah aku resmi selalu menjadi bagian darimu begitupun sebaliknya. Sesaat setelah kamu datang dengan wajahmu yang dulu padaku, ada yang lain datang persis menawarkan hal yang sama. Tapi takdir lebih suka kita bersama, semesta memberikan tanda alih-alih itu adalah sebagai penguat apa yang yang sudah aku putuskan. Memilihmu.
Aku bukan siapa-siapa saat itu, tanpa pengalaman apa-apa, bahkan tidak begitu kenal kau ini siapa dan apa sebenarnya. Desas-desus teman, sekilas informasi, dan satu kali mencari tahu dari balik dinding kaca di sekolah. Terlalu terbawa suasana ketika banyak teman juga tertarik padamu. Berharapa mereka akan menjadi salah satu bagian dalam dirimu. Aku tidak. Aku hanya menuruti saja ketika ada teman mengajakku untuk bertemu denganmu di awal perkenalan dan ternyata itu berlanjut sampai sejauh ini.
Lima tahun, lima bulan, dua puluh tiga hari, sepuluh jam, lima puluh empat menit. Terus bertambah sampai nanti mungkin jika kita memang berjodoh.
Setelah semua ini, akhirnya kemarin aku dapatkan pengakuanmu. Sebagai yang mungkin layak untuk diakui berada di sisimu, membawa kebaikan untukmu, dan bermanfaat untuk sesama atas adanya hubungan ini. Di balik itu semua jujur saja sebetulnya banyak hal yang aku dapatkan. Baik dan buruk (meski pada akhirnya aku akui sebagai sebuah kebaikan dalam bentuk lain), susah dan senang perlakukanmu padaku, memanjakan atau menuntut banyak hal. Hal-hal ajaib terjadi dalam hidupku setelah aku berada di sisimu untuk waktu yang tidak bisa kubilang singkat.
Aku masih ingat pertama kali sebelum kita akhirnya bisa menjadi bagian yang saling mengisi satu sama lain, berapa banyak rintangan pertanyaan yang harus dilewati, berapa banyak uji coba yang harus dilalui, berapa banyak tantangan menguras emosi yang harus aku selesaikan. Aku masih ingat itu semua. Aku bahkan masih ingat, ketika aku justru merasa diculik ke daerah antah berantah sebelum menemuimu, padahal itulah kamu, dengan wajah sederhanamu kala itu. Terlihat tertutup dari kebanyakan orang, tampak begitu minimalis dan pendiam. Aku masih ingat, dengan koper di tangan aku malu-malu memperhatikan setiap lekuk yang ada padamu. Memperhatikan detail secara seksama, berpikir dan berkata dalam hati, siapa dan apa kamu sebenarnya.
Setelah itu hari-hari kita seperti jet coaster. Naik dan turun, tidak jarang harus berputar dulu, meliuk, kadang cepat lalu melambat. Terus seperti itu sampai hari ini. Karenamu, aku tahu beberapa hal baru menarik di dunia ini. Musik Indie, buku-buku berbahasa asing dengan bahasan super complicated, selebaran design warna-warni, baju-baju designer nusantara, orang-orang di balik layar besar, tempat-tempat hangout baru, dan bahkan istilah paling weird selama hidupku. Karenamu juga, perkenalanku dengan banyak kepala terjadi, mengenal ratusan karakter berbeda sepanjang tahun kita bersama.
Kamu memang satu, tapi kamu membuat aku bisa kemana saja dan bertemu dengan apa saja yang banyak jumlahnya.
Sekarang, aku harus kembali sadar dan tahu diri siapa aku bagimu. Sekarang, aku harus kembali melangkah dan menyiapkan hati lebih lapang. Sebab aku tahu kamu juga inginkan aku melapangkan hati, membuka pikiran lebih lebar, melangkah jauh lebih panjang, dan membuktikan padamu bahwa aku layak untukmu. Kamu tidak sesederhana yang dulu. Kamu berubah menjadi lebih tangguh dari yang dulu sekaligus rapuh. Tapi aku rasa aku layak untuk pengakuan lain untuk setiap hasil terbaik yang sudah kuberikan padamu. Kudoakan, kamu selalu dilindungi Tuhan, diberikan rahmat agar selalu sehat dan membawaku turut serta di semua pencapaianmu :)
Karena aku bisa berikan lebih dari yang kamu minta,.
ps:
mengenang perjalanan bersamamu, seandainya dulu aku sudah punya fotomu.
:)
manusia kecil bisa memilih menjadi apa dia ketika dewasa nanti. tapi manusia kecil tidak pernah bisa memilih dari mana ia lahir dan atas benih siapa ia tumbuh.
biarkan manusia kecil bebas menunjukkan siapa dia tapi tetap tunjukkan jalan yang baik di setiap pilihan hidupnya. supaya tahu harus berpegang pada apa, siapa, dan harus bagaimana ketika tidak lagi kecil.
tik tok
tik
tok
tik tik tok
tok
tok tok tik
tik
tok
tik tik tok
tok
tok tok tik
karena masih banyak yg harus diselesaikan, bukan hanya perlu saja.
karena scrapbook untuk Irma belum usai.
kain segi empat belum sampai untuk para bidadari kamar.
permadani baru belum ada di lantai untuk ratu istana.
dan raja belum kembali dari berkelana hilang arah tersesat di hutan sana.
tapi waktu tidak diam menanti,
tik
tok
tok
dia di tempat, tapi aku tak sedikitpun lagi bisa mundur bahkan melambat.
Jakarta, 050916
Belakangan kerap kali setiap akan pergi keluar dari kota ini, merasa harus ada tulisan yang diselesaikan lalu di-publish. Bukan semata-mata karena kesempatan yg juga ada, tapi terlebih karena merasa terdorong untuk melakukan itu untuk satu tujuan yang entah apa saya juga tidak tahu.
Mungkin sebagai pengingat sebelum pergi jauh lalu kembali atau mungkin tidak kembali. Atau sebagai pelepas dahaga akan aksara yang ternyata justru terpuaskan ketika waktu mepet menjelang tidak lagi santai duduk-duduk di belakang meja.
Pergi untuk kembali.
Itu keinginan yang sadar atau tidak ada di setiap perjalanan. Tidak ada yang sebenar-benarnya ingin pergi begitu saja tanpa ingin tahu lagi apa rasanya pulang dan memeluk bayang, menghirup aroma, merasa dingin tembok rumah.
Semua (mungkin) ingin pulang lagi. Setelah pergi.
Mungkin sebagai pengingat sebelum pergi jauh lalu kembali atau mungkin tidak kembali. Atau sebagai pelepas dahaga akan aksara yang ternyata justru terpuaskan ketika waktu mepet menjelang tidak lagi santai duduk-duduk di belakang meja.
Pergi untuk kembali.
Itu keinginan yang sadar atau tidak ada di setiap perjalanan. Tidak ada yang sebenar-benarnya ingin pergi begitu saja tanpa ingin tahu lagi apa rasanya pulang dan memeluk bayang, menghirup aroma, merasa dingin tembok rumah.
Semua (mungkin) ingin pulang lagi. Setelah pergi.
| Rumah di pinggir jalan. Saya ambil dari mobil ketika menuju Rumah. |
Perjalanan kali ini super duper baper.
Perut gampang laper.
Emosi gampang nyamber.
Perjalanan kali ini nano nano rasanya.
Susah senang tapi sama-sama.
Masih sama Rendy, papa, mama.
Perjalanan kali banyak sekali pelajaran.
Tentang kesendirian sampai ilmu pernikahan.
Tentang kegalauan sampai alternatif jawaban.
Perjalanan kali tapi sayangnya masih ada kamu.
Menari-nari di kepala dan halaman-halaman buku.
Di jendela bahkan sampai secuil batu.
---
Sudah pulang ke Jakarta,
maunya bercerita satu-satu.
Selamat menunggu.
Perut gampang laper.
Emosi gampang nyamber.
Perjalanan kali ini nano nano rasanya.
Susah senang tapi sama-sama.
Masih sama Rendy, papa, mama.
Perjalanan kali banyak sekali pelajaran.
Tentang kesendirian sampai ilmu pernikahan.
Tentang kegalauan sampai alternatif jawaban.
Perjalanan kali tapi sayangnya masih ada kamu.
Menari-nari di kepala dan halaman-halaman buku.
Di jendela bahkan sampai secuil batu.
---
Sudah pulang ke Jakarta,
maunya bercerita satu-satu.
Selamat menunggu.
Betapa harus bersyukurnya saya yang tinggal di kota ini, negera ini. Setidaknya saya tidak harus takut untuk berjalan, seperti di Lahore yang tiba-tiba meledak. Setidaknya saya tidak perlu takut duduk santai sore-sore, seperti di Paris saat peluru berhamburan di udara. Dan saya setidaknya tidak perlu takut untuk beraktifitas ke luar rumah, bercengkrama bersama keluarga seperti di Palestina atau kota lainnya di Pakistan. Dimana bom meledak berkali-kali, misil terbang bebas di angkasa dan moncong senjata siap meledak kapan saja.
Saya mungkin belum bisa apa-apa untuk membantu mereka, tapi saya masih bisa bersyukur untuk segala kemudahan saya selama ini. Saya masih hidup dengan aman dengan segala aktifitas dan berjumpa dengan sanak saudara. Begitu pun dengan kamu.
Selesai baca berita semacam ini lagi, kali ini tentang Lahore.
http://epaper1.kompas.com/kompas/books/160329kompas/?abilitastazione=#/1/
Saya mungkin belum bisa apa-apa untuk membantu mereka, tapi saya masih bisa bersyukur untuk segala kemudahan saya selama ini. Saya masih hidup dengan aman dengan segala aktifitas dan berjumpa dengan sanak saudara. Begitu pun dengan kamu.
Selesai baca berita semacam ini lagi, kali ini tentang Lahore.
http://epaper1.kompas.com/kompas/books/160329kompas/?abilitastazione=#/1/






