Dengan segala kemudahan saat ini, kami merasa sangat sulit justru mendapat akses ketenangan tanpa gangguan. Setiap menit yang dipakai untuk diam rasanya terselip rasa bersalah jika tidak melakukan apa-apa. Akibatnya alih-alih benar-benar diam, kami tetap melakukan scrolling di gawai masing-masing yang berujung dump scrolling. Otak kami makin mati dan jauh dari kreativitas, karena terpapar informasi berlebihan tapi tidak bertindak apapun. Rasanya lelah padahal tidak melakukan apapun. Tapi ada satu hal menarik yang aku temukan di salah satu informasi tersebut, bahwa otak sebenarnya bisa diajak fokus untuk durasi tertentu tanpa distraksi apapun. Memang butuh dilatih untuk semakin canggih, oleh karena itu tulisan ini dibuat dengan kesadaran penuh bahwa waktu tidak bisa diulang dan penyesalan akan selalu datang terlambat.
Menuju penutup usia di angka kembar 3, aku merasa semakin terpojok. Pemikiran tentang apa saja yang sudah aku hasilkan selama ini, apa yang akan aku wariskan di kehidupan nanti setelah aku tiada, dan seberapa berdampak aku untuk diriku sendiri atau lingkunganku, menjadi pukulan pelan tapi selalu konstan dan menimbulkan lebam yang tidak pernah sembuh. Berharap suatu hari aku menemukan jawaban atas semua pertanyaan. Tapi sampai kapan hanya bisa berharap tanpa memulai apapun. Kontemplasi mendalam terjadi tadi pagi ketika aku berangkat bekerja seperti biasa. Berdiri di atas Trans Jakarta 4K yang melaju dengan kecepatan 10km/jam, tersendat beberapa kali karena padatnya lalu lintas, dengan tas di pundak, desakan kiri dan kanan. Sebenarnya apa yang aku cari dalam hidup? Sebenarnya apa yang terus aku lakukan setiap hari? Sebenarnya untuk siapa semua ini? Sebenarnya apa motivasi terkuat aku hidup dengan cara saat ini?
Akal pendekku menjawab, uang. Tapi akal panjangku menganga tidak menemukan ujung jawabannya. Jika aku bilang hari akhir adalah tujuanku, apakah aku terdengar begitu naif? Apakah aku pantas untuk mendapatkan pemikiran itu? Jika manusia hidup dengan tugas sesungguhnya adalah menjadi hamba, lantas bukankan melakukan perintah atasan adalah mutlak baginya? Tidak ada jalan lain selain sebaik-baiknya menjalankan peran itu. Lantas, kalau lelah kemana harus berhenti, kepada siapa harus mengadu, apa lagi penguat yang bisa mendorong agar kaki terus melangkah.
Seringkali hidup menjadi sebuah teka-teki sekaligus bercandaan yang tidak ada habisnya. Hidup juga seringkali sebagai cangkang kosong sampai kita benar-benar berpulang. Sudahkah kami mengisinya dengan segala hal yang diperlukan di kehidupan akhir nanti?
Dari sepanjang ini tulisanku, aku tidak melihat lagi ke atas. Apa saja yang sudah aku sampaikan. Bisakah ia menjadi pelipur laraku secara ajaib? Aku menuliskannya dalam waktu 6 menit.
--
Membuatnya tanpa proses editing. Mengasyikkan sekaligus menggelisahkan. Begitu liar, naif dan seperti ingin ditertawakan saja.
0 komentar