Sayang,
kamu pasti akan tahu rasanya tidak enak seharian tergeletak tak berdaya di kasur ketika tidak lagi sehat seperti sedia kala.
Sayang,
kamu pasti akan paham ketidakberdayaan bahkan untuk sekedar beranjak mengambil segelas air di ujung ruang yang tidak begitu lebar hanya ketika tidak sehat seperti sebelumnya.
Sayang,
sekali lagi kamu akan memaklumi bahwa berdiri lama akan membuat tubuhmu oleng, ototmu gemetar, dan kepalamu sakit luar biasa ketika sehat tidak lagi ada di tubuhmu.
Maka jangan sampai ia pergi dari tubuhmu, Sayang.
Karena seberapapun besar kepedulianku padamu, tidak akan ada artinya jika ia tidak kembali padamu. Kamu tidak lagi bisa abai terhadapnya. Ia adalah nikmat Tuhanmu yg harus selalu kau syukuri setiap saatnya.
kamu pasti akan tahu rasanya tidak enak seharian tergeletak tak berdaya di kasur ketika tidak lagi sehat seperti sedia kala.
Sayang,
kamu pasti akan paham ketidakberdayaan bahkan untuk sekedar beranjak mengambil segelas air di ujung ruang yang tidak begitu lebar hanya ketika tidak sehat seperti sebelumnya.
Sayang,
sekali lagi kamu akan memaklumi bahwa berdiri lama akan membuat tubuhmu oleng, ototmu gemetar, dan kepalamu sakit luar biasa ketika sehat tidak lagi ada di tubuhmu.
Maka jangan sampai ia pergi dari tubuhmu, Sayang.
Karena seberapapun besar kepedulianku padamu, tidak akan ada artinya jika ia tidak kembali padamu. Kamu tidak lagi bisa abai terhadapnya. Ia adalah nikmat Tuhanmu yg harus selalu kau syukuri setiap saatnya.
Tujuh puluh satu tahun Indonesia sudah dinyatakan merdeka secara de jure. Terlepas dari penjajahan bangsa asing, tidak lagi terikat pada kerja rodi dan tanam paksa, dan tidak perlu lagi menari demi tuan tanah yang serakah-menjual harga diri pada orang yang nyatanya sama-sama pribumi.
Tujuh puluh satu tahun sudah Indonesia dinyatakan merdeka. Memiliki tanah sendiri, kedaulatan menyebar dengan pasti, dan pemimpin yang pintar diplomasi di sana dan di sini.
Sedang kami masih belum bisa sepenuhnya merdeka atas setiap penjajahan kecil-kecilan di sekitar. Ternyata secara de facto, kami masih tertindas. Pura-pura lupa atas setiap kesalahan yang tertupi dan tidak terusut dengan tuntas.
Tapi semoga semakin tua, bangsa ini semakin dipenuhi dengan manusia-manusia berjiwa satria yang sebenarnya. Membela kebenaran di tanah kelahiran, menuntaskan ke-munkar-an. Menghasilkan generasi emas secara iman dan perbuatan. Pancasila boleh jadi sari pati nilai kebaikan, tapi Tuhan tetap satu dan diutamakan.
Dengan jalan kasih sayang dan kepedulian antar sesama, untuk kebaikan semua, dimulai dari keluarga.
Selamat Hari Kemerdekaan!
Setelah sekian tahun saya tidak lagi pernah mengikuti upacara bendera, akhirnya tanggal 17 Agustus lalu saya berkesempatan untuk hadir di sebuah upacara sederhana yang dilakukan Termimalhujan bersama anak-anak dan warga sekitar. Saya kembali menjadi peserta. Berusaha setertib mungkin mengikuti jalannya upacara meskipun gatal sekali ingin ikut mengoreksi setiap ada prosesi yang salah dan tidak pada tempatnya. Saya memang sudah lama tidak lagi ikut, tapi saya ingat betul bagaimana seharusnya sebuah upacara ini berjalan. Tapi lalu saya kembalikan lagi pada hati kecil saya, 'Hei, ini kan baru permulaan lagi. Kamu bisa membuatnya lebih baik di tahun selanjutnya dengan persiapan yang lebih matang untuk anak-anak yang berlaku sebagai petugas. Ajari mereka dan beri tahu secara baik. Itu akan lebih bijak.'
Anak-anak sudah berusaha semaksimal mungkin dan sebaik mungkin, maka harus diapresiasi. Keberanian mereka untuk sekedar tampil. Kemauan mereka tanpa harus dipaksa. Itu adalah wujud-wujud generasi kita selanjutnya.
Pada akhirnya, upacara selesai. Tidak sempurna, tapi saya cukup bahagia. Kesempatan ini masih ada ternyata. Saya masih bisa berdiri tegak menghadap matahari demi Sang Saka.
Terima kasih, Terminalhujan :)
Kalian memberikan kenangan manis di tahun ini.
Tujuh puluh satu tahun sudah Indonesia dinyatakan merdeka. Memiliki tanah sendiri, kedaulatan menyebar dengan pasti, dan pemimpin yang pintar diplomasi di sana dan di sini.
Sedang kami masih belum bisa sepenuhnya merdeka atas setiap penjajahan kecil-kecilan di sekitar. Ternyata secara de facto, kami masih tertindas. Pura-pura lupa atas setiap kesalahan yang tertupi dan tidak terusut dengan tuntas.
Tapi semoga semakin tua, bangsa ini semakin dipenuhi dengan manusia-manusia berjiwa satria yang sebenarnya. Membela kebenaran di tanah kelahiran, menuntaskan ke-munkar-an. Menghasilkan generasi emas secara iman dan perbuatan. Pancasila boleh jadi sari pati nilai kebaikan, tapi Tuhan tetap satu dan diutamakan.
Dengan jalan kasih sayang dan kepedulian antar sesama, untuk kebaikan semua, dimulai dari keluarga.
Selamat Hari Kemerdekaan!
Setelah sekian tahun saya tidak lagi pernah mengikuti upacara bendera, akhirnya tanggal 17 Agustus lalu saya berkesempatan untuk hadir di sebuah upacara sederhana yang dilakukan Termimalhujan bersama anak-anak dan warga sekitar. Saya kembali menjadi peserta. Berusaha setertib mungkin mengikuti jalannya upacara meskipun gatal sekali ingin ikut mengoreksi setiap ada prosesi yang salah dan tidak pada tempatnya. Saya memang sudah lama tidak lagi ikut, tapi saya ingat betul bagaimana seharusnya sebuah upacara ini berjalan. Tapi lalu saya kembalikan lagi pada hati kecil saya, 'Hei, ini kan baru permulaan lagi. Kamu bisa membuatnya lebih baik di tahun selanjutnya dengan persiapan yang lebih matang untuk anak-anak yang berlaku sebagai petugas. Ajari mereka dan beri tahu secara baik. Itu akan lebih bijak.'
Anak-anak sudah berusaha semaksimal mungkin dan sebaik mungkin, maka harus diapresiasi. Keberanian mereka untuk sekedar tampil. Kemauan mereka tanpa harus dipaksa. Itu adalah wujud-wujud generasi kita selanjutnya.
Pada akhirnya, upacara selesai. Tidak sempurna, tapi saya cukup bahagia. Kesempatan ini masih ada ternyata. Saya masih bisa berdiri tegak menghadap matahari demi Sang Saka.
Terima kasih, Terminalhujan :)
Kalian memberikan kenangan manis di tahun ini.
bulan sembunyi di matamu---
tiap-tiap membuka, malam cemerlang di hatiku
embun, rimbun di bibirmu
tiap-tiap menganga, hening meletus di jantungku
aku ingin bersepi-sepi
karena pada tiap-tiap sepi
kutemukan dirimu
lebih lama dari biasanya
bulan sembunyi di matamu
tiap-tiap membuka, hening meletus di jantungku
aku ingin bersepi-sepi
karena pada tiap-tiap sepi
kutemukan dirimu
lebih lama dari biasanya
lebih senyap dari lapuh subuh
lebih hening dari bening embun
Tuhan yang kamu cintaiadalah yg secara rahasia
mengajariku cara mencintai kamu
Dibawakan oleh Anji ketika Malam Lampion di Dieng Culture Festival 2016
Belakangan kerap kali setiap akan pergi keluar dari kota ini, merasa harus ada tulisan yang diselesaikan lalu di-publish. Bukan semata-mata karena kesempatan yg juga ada, tapi terlebih karena merasa terdorong untuk melakukan itu untuk satu tujuan yang entah apa saya juga tidak tahu.
Mungkin sebagai pengingat sebelum pergi jauh lalu kembali atau mungkin tidak kembali. Atau sebagai pelepas dahaga akan aksara yang ternyata justru terpuaskan ketika waktu mepet menjelang tidak lagi santai duduk-duduk di belakang meja.
Pergi untuk kembali.
Itu keinginan yang sadar atau tidak ada di setiap perjalanan. Tidak ada yang sebenar-benarnya ingin pergi begitu saja tanpa ingin tahu lagi apa rasanya pulang dan memeluk bayang, menghirup aroma, merasa dingin tembok rumah.
Semua (mungkin) ingin pulang lagi. Setelah pergi.
Mungkin sebagai pengingat sebelum pergi jauh lalu kembali atau mungkin tidak kembali. Atau sebagai pelepas dahaga akan aksara yang ternyata justru terpuaskan ketika waktu mepet menjelang tidak lagi santai duduk-duduk di belakang meja.
Pergi untuk kembali.
Itu keinginan yang sadar atau tidak ada di setiap perjalanan. Tidak ada yang sebenar-benarnya ingin pergi begitu saja tanpa ingin tahu lagi apa rasanya pulang dan memeluk bayang, menghirup aroma, merasa dingin tembok rumah.
Semua (mungkin) ingin pulang lagi. Setelah pergi.
| Rumah di pinggir jalan. Saya ambil dari mobil ketika menuju Rumah. |