Kamu menyebutnya "wanita itu", sebagai kata ganti nama yang enggan kau sebut. Tidak apa, aku membawakan diriku dan namaku. Kamu bebas memanggilku kapan saja kamu mau. Berharap kamu tidak pernah bosan dengan namaku.
--
Kapan saja.
--
Tidak pernah bosan.
Hampir saja aku menjadi "wanita itu" dalam sejarah hidupmu. Besok lusa barangkali aku harus membuka banyak arsip di entah berapa laci kalau mau mencari namaku. Jika semua itu benar terjadi-jika aku menjadi wanita itu. Tapi aku di sini. Dengan diri dan namaku. Aku tidak akan pernah jadi wanita itu. Karenanya tidak ada arsip yang mesti kau atau aku cari.
--
Banyak arsip.
--
Mencari di laci.
Wanita itu hanya akan menjadi sebuah titik. Sedang namaku akan terus mengalir menjadi kata, kemudian, kalimat, berubah paragraf, dan bermuara pada kita.
Semuanya bisa kau baca.
--
Hanya mau atau tidak saja.
Setelah ingin melupakan berharap merasakan rindu adalah hal yang begitu egois didengar. Kenapa saking banyaknya yang ingin kita lakukan, banyak hal juga yang harus dikorbankan. Rasanya rindu tidak akan pernah pantas untuk mereka yang memang sama sekali tidak menginginkannya. Terlalu indah bagi jiwa-jiwa yang lantas memilih pergi ketimbang tetap tinggal. Lalu untuk apa esensi merindu. Dia memang sudah memilih.
Kata temanku, puaskan saja penasaranmu akan sebuah kehilangan dan kemudian reguk rindu sepuas-puasnya lantas kembali bertemu dan bercinta sesudahnya. Tidak sesederhana itu. Dari urusan merindu bisa menjadi lebih rumit ketimbang wol yang carut marut di dalam laci meja. Pun bercinta bukan penyelesaian atas segala resah yang dirasa.
Kata tuanku, bergantung pada sesuatu yang tidak menghasilkan juga merupakan pekerjaan sia-sia. Tidak produktif. Tentu saja, tidak akan pernah ada pemasukan bagi yang tidak berusaha. Bahkan usaha saja tidak cukup, kata-kata "lebih keras" harus ada mengikutinya di belakang. Mau sekeras seperti kuda berlari, berpacu dengan Hyena (?). Lebih baik kamu tenggelamkan saja aku ke dasar Palung Mariana.
![]() |
| from here |
Merindu seperti tiara yang hanya pantas dikenakan para putri. Tidak disanding begitu saja bersama karung lusuh yang tidak tahu isinya apa. Karena seharusnya membiaskan garis tawa bukan perih di ujung senja.
Kalau aku jatuh cinta, apakah aku menjadi kalah?
Tidak pernah ada batas berupa dinding di antara kita sebelumnya. Bukan juga tirai penghalang mata.
Lalu, apakah jika aku jatuh cinta lantas aku menjadi kalah karenanya?
Lalu ketika Putri Duyung bertanya pada lelaki itu, apakah itu cinta?
Lelaki itu menjawab, cinta adalah berpasrah dan percaya. Sekaligus kau menyerah. Atas segalanya.
Menyedikan sekali mereka.
Tapi siang ini aku ingin melantangkan suara. Berkata bahwa aku jatuh cinta.
Iya, akuuuuuuuu
cintaaaaaa
kamuuuuuu
Akan aku biarkan suaraku bergema, saling bersahutan di tebing-tebing antara kita. Aku tahu kamu mendengar.
Tidak pernah ada batas berupa dinding di antara kita sebelumnya. Bukan juga tirai penghalang mata.
Lalu, apakah jika aku jatuh cinta lantas aku menjadi kalah karenanya?
Lalu ketika Putri Duyung bertanya pada lelaki itu, apakah itu cinta?
Lelaki itu menjawab, cinta adalah berpasrah dan percaya. Sekaligus kau menyerah. Atas segalanya.
Menyedikan sekali mereka.
Tapi siang ini aku ingin melantangkan suara. Berkata bahwa aku jatuh cinta.
Iya, akuuuuuuuu
cintaaaaaa
kamuuuuuu
Akan aku biarkan suaraku bergema, saling bersahutan di tebing-tebing antara kita. Aku tahu kamu mendengar.
Kalau tidak ditulis dengan tangan, rasanya akan ada yang kurang. Selalu.
Kalau tidak pernah kau letakkan tanganmu di atas tanganku, rasanya tidak akan pernah ada kupu-kupu liar di perut. Begitu.
Kalau tidak pernah lihat ada dua garis yang melintang sama, rasanya tidak akan ada uji coba. Agaknya.
Semuanya dari tangan.
Aku percaya semuanya dimulai dari tangan.
--
Mari, kubuatkan lagi daftar langkah yang mesti kau jalani bersamaku. Kali ini, bersemangatlah!
Mengeja
Menghapus
Mengeja lagi
Kembali menghapus
Begitu seterusnya tanpa jeda
Berapa lama
Entah, sudah kali keberapa
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Menggantung di langit lidah
Kata tertahan kemudian tertelan
Apa saja yg perlu kita ingat
Apa saja yang perlu kita buang
.
.
Meraba cermin
Hanya ada kamu di sana
Atau aku sesekali melongok dari balik punggung
Menyamarkan rupa dalam cahaya
Atau ikut bersama bayang dalam jelaga
Dan kemudian pergi kemana
.
.
.
Jangan tanya aku dengan hal-hal yang tidak kutahu jawabannya
Oh!
Atau mungkin aku hanya butuh waktu lebih banyak
Lalu semua akan terjawab
.
Sayang, waktu tidak memberi jeda untuk kita rehat barang sejenak.
Kamu lalai,
bersiaplah ucapkan good bye
Menghapus
Mengeja lagi
Kembali menghapus
Begitu seterusnya tanpa jeda
Berapa lama
Entah, sudah kali keberapa
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Menggantung di langit lidah
Kata tertahan kemudian tertelan
Apa saja yg perlu kita ingat
Apa saja yang perlu kita buang
.
.
Meraba cermin
Hanya ada kamu di sana
Atau aku sesekali melongok dari balik punggung
Menyamarkan rupa dalam cahaya
Atau ikut bersama bayang dalam jelaga
Dan kemudian pergi kemana
.
.
.
Jangan tanya aku dengan hal-hal yang tidak kutahu jawabannya
Oh!
Atau mungkin aku hanya butuh waktu lebih banyak
Lalu semua akan terjawab
.
Sayang, waktu tidak memberi jeda untuk kita rehat barang sejenak.
Kamu lalai,
bersiaplah ucapkan good bye
Jakarta,
Tempat aku bangun dan tidur seringkali di luar rencana
Dengan sifatnya air mampu menempati segala ruang sesuai bentuknya. Tidak perlu patah atau terpisah. Air akan melebar sesuai volumenya. Menyesuaikan rupa dan lingkungan sekitar. Air dengan pengelolaan terbaik akan menghasilkan kehidupan dan sebaliknya air yang dibiarkan begitu saja atau datang dengan kapasitas di luar batas akan menghancurkan dan sekaligus bisa meniadakan kehidupan.
Seperti filosofi kita punya rupa dalam nama. Ria akan membawamu dalam sebuah suka cita. Ria sekaligus bisa menghantarka duka tak berkesudahan menjadi lara. Perlakukan saja dia dengan bijaksana dan kasih akan datang dalam kamu punya semesta.
Seperti filosofi kita punya rupa dalam nama. Ria akan membawamu dalam sebuah suka cita. Ria sekaligus bisa menghantarka duka tak berkesudahan menjadi lara. Perlakukan saja dia dengan bijaksana dan kasih akan datang dalam kamu punya semesta.
Duduk acak di sembarang tempat. Rel rel mulai sepi. Gerbong mulai kosong. Jam berdentang tepat ketika suara terdengar lantang.
Wajah sendu, muram, tertunduk menahan kantuk. Ada wajah bersahabat tapi tetap dengan garis lelah tentu saja. Ada yg masih saja merah merona, karena bincang mesra dengan si dia.
Manggarai,
Menuju tengah malam berganti hari.
Sealbum Norah Jones
Sebotol besar air putih--sudah kosong
Setumpuk berkas berantakan
Setumpuk baju siap setrika
Sekumpulan kotak makan kosong di meja
Segitunya aku inget kamu tapi kamu gak ada
Pendingin ruangan
Langit kelam
Minggu dini hari yang beda
Tidak ada mimpi
Tidak ada yang perlu aku cari-cari
4:18 am
and I'm still awake
since yesterday
Sebotol besar air putih--sudah kosong
Setumpuk berkas berantakan
Setumpuk baju siap setrika
Sekumpulan kotak makan kosong di meja
Segitunya aku inget kamu tapi kamu gak ada
Pendingin ruangan
Langit kelam
Minggu dini hari yang beda
Tidak ada mimpi
Tidak ada yang perlu aku cari-cari
4:18 am
and I'm still awake
since yesterday
Cara malam membebaskanku dalam berpikir adalah dengan membuatku sungguh tak berdaya di siang harinya. Apa yang aku lakukan di siang hari tidak lebih dari sekedar mengisi perut, menunaikan tugas, lalu kembali pada mimpi. Kemudian sempurna terjaga dan terbebas dari mimpi berulang pada malamnya. Menjelang pagi dan mata tetap saja bergerak sempurna tanpa kantuk menggantung. Tidak perlu kafeina sebagai teman bertegur sapa. Aku cukup mandiri kali ini. Malam sudah memanggilku, dia sendiri yang datang sejak siang.
Banyak hal tersirat kemudian menjadi semacam sabit tanda tanya yang menggantung pada malam kepala. Di luar sana bulan juga hampir sabit. Kembali pada siklusnya. Apa apa yang kemudian menjadi bunga-bungan hiasan pemikiran malam ini alih-alih menyelesaikan segala macam kewajiban yang selalu tertunda adalah tentang hubungan kita.
Kalau saja semudah membalikkan telapak tangan dalam setian penyelesaian masalah, barangkali akal manusia tidak bisa terasah sedemikian rupa untuk level permasalahan yang lebih besar lagi nantinya. Hubungan ini tidaklah sehat kurasa. Aku tergantung padamu, begitupun sebaliknya. Kita tidak bisa melepas satu sama lain secara serampangan.
Cara malam membebaskanku adalah dengan membuatku tetap terjaga. Memberikan kesempatan untuk setiap celah terisi dengan jawaban-jawaban sakti pada setiap kali aku bertanya. Tentang seberapa produktif kah aku jika selalu saja meladenimu bicara dari Sabang sampai Merauke. Tentang seberapa efektif kah waktuku untuk menyelemi kalam Illah pada kitab. Tentang seberapa tuluskah aku pada Illah jika aku selalu saja mendikte inginku tentangmu pada-Nya. Tentang pantaskah kita melakukan cara ini untuk memuaskan keinginan kita. Tentang apa yang sudah kulakukan untuk kemajuan sebuah rumah yang sudah menaungiku tahunan lamanya. Dan juga tentang hidupku bersama mereka, sudah seberapa baikkah, sudah cukup baikkah, cukupkah, bekal aku kelak ketika pulang pada rumah yang lebih nyata.
Malam membebaskanku menerabas setiap kemungkinan pemikiran tanpa tabir.
Banyak hal tersirat kemudian menjadi semacam sabit tanda tanya yang menggantung pada malam kepala. Di luar sana bulan juga hampir sabit. Kembali pada siklusnya. Apa apa yang kemudian menjadi bunga-bungan hiasan pemikiran malam ini alih-alih menyelesaikan segala macam kewajiban yang selalu tertunda adalah tentang hubungan kita.
Kalau saja semudah membalikkan telapak tangan dalam setian penyelesaian masalah, barangkali akal manusia tidak bisa terasah sedemikian rupa untuk level permasalahan yang lebih besar lagi nantinya. Hubungan ini tidaklah sehat kurasa. Aku tergantung padamu, begitupun sebaliknya. Kita tidak bisa melepas satu sama lain secara serampangan.
Cara malam membebaskanku adalah dengan membuatku tetap terjaga. Memberikan kesempatan untuk setiap celah terisi dengan jawaban-jawaban sakti pada setiap kali aku bertanya. Tentang seberapa produktif kah aku jika selalu saja meladenimu bicara dari Sabang sampai Merauke. Tentang seberapa efektif kah waktuku untuk menyelemi kalam Illah pada kitab. Tentang seberapa tuluskah aku pada Illah jika aku selalu saja mendikte inginku tentangmu pada-Nya. Tentang pantaskah kita melakukan cara ini untuk memuaskan keinginan kita. Tentang apa yang sudah kulakukan untuk kemajuan sebuah rumah yang sudah menaungiku tahunan lamanya. Dan juga tentang hidupku bersama mereka, sudah seberapa baikkah, sudah cukup baikkah, cukupkah, bekal aku kelak ketika pulang pada rumah yang lebih nyata.
Malam membebaskanku menerabas setiap kemungkinan pemikiran tanpa tabir.





