Dulu berkali-kali saya ambil percobaan untuk mengetahui saya masuk ke mana dari 16 golongan yang ada, jawabannya adalah ESTJ. Kalau kamu mau tahu seluk beluk tentang ESTJ itu apa, cari saja di laman pencari ya. Saya bukan mau bahas itu soalnya. Tapi apa yang saya rasakan di baliknya. Katanya ESTJ itu ibarat ekskutif. Excellent administrators, unsurpassed at managing things - or people.
Good order is the foundation of all things.
-Edmund Burke
Menurut situs www.16personalities.com , tipikal ESTJ adalah yang sering mengambil peran sebagai organisator masyarakat, bekerja keras untuk membawa semua orang bersama-sama dalam perayaan acara lokal dihargai, atau dalam membela nilai-nilai tradisional yang memegang keluarga dan masyarakat bersama-sama. Orangnya stick to the rules gitu lah. Tentang kelebihan dan kekurangan juga di bahas di sini: http://www.16personalities.com/estj-strengths-and-weaknesses . Sebagian dari itu semua betul untuk diri saya.
Excellent administrators, unsurpassed at managing things - or people.
Because they value honesty and straightforwardness so highly, people with the ESTJ personality type are likely to be clear about who they are, what they're like and what their goals are from the start, and to stick to those statements long-term. So long as their partner is able to take them at their word and follow suit, they are bound to be extremely stable relationships.huft lah.
dan masih banyak lagi tentang ESTJ di dalam penjelasan situs tersebut. Tapi ternyata itu semua adalah panduan umum saja, in generally. Nyatanya tidak selalu benar semua. Memilliki partner yang katanya juga ESTJ membuat saya menjadi pengamat terhadap sifat-sifat yang ada di macam-macam manusia. Lalu saya bandingkan dengan diri saya sendiri.
"di situs gini, di buku gini, saya gini, eh kok dia gini?"
Pertanyaan macam itu kerap kali membuat saya berpikir lebih jauh lagi, kalau begitu tidaklah benar saya terlalu mematokkan hidup dan sifat seseorang. Setiap orang pasti punya celahnya masing-masing. Meski kembali lagi, pengelompokkan itu juga bisa dikatakan sebagai pencerah saja kalau kita mau tahu sebetulnya kita itu yang mana dan seperti apa sih.
Berbulan-bulan kemudian saya iseng melakukan test ini lagi. Hasilnya malah mengejutkan. Saya berubah total menjadi seorang ENFP. Berkebalikan semua dan ESTJ. Kecuali sifat ekstovert yang tampaknya sudah terlalu melekat di diri saya. Saya bertanya-tanya lagi. Kenapa begini dan begitu. Melihat segala kemungkina yang bisa saja terjadi dan menjadi sebab akibat perubahan yang terjadi pada saya. Masih di situs yang sama, saya mendapatkan penjelasan mengenai ENFP, a Campaigner.
Enthusiasthic, creative and social free spirits, who can always find a reason to smile.It doesn't interest me what you do for a living. I want to know what you ache for – and if you dare to dream of meeting your heart's longing. It doesn't interest me how old you are. I want to know if you will risk looking like a fool – for love – for your dreams – for the adventure of being alive.-Oriah Mountain Dreamer
Yes, saya bisa selalu dapat alasan untuk tersenyum meskipun pelik. Tiba-tiba hal konyol terlintas atau kesadaran untuk selalu bersyukur untuk setiap detik kehidupan. Hal ini juga pernah saya tulis sebagai salah satu nilai positif saya sewaktu ada pelatihan kantor tempo sebelumnya.
They tend to see life as a big, complex puzzle where everything is connected – but unlike Analysts, who tend to see that puzzle as a series of systemic machinations, ENFPs see it through a prism of emotion, compassion and mysticism, and are always looking for a deeper meaning.Well,
Lingkungan sangat mungkin memengaruhi perubahan emosional seseorang. Termasuk di dalamnya perilaku, kebiasaan, dan cara berososialisasi. Teman bicara, keadaan keluarga, kebiasaan membaca dan mendengar juga bisa turut andil. Saya sendiri merasa, perbedaan hasil test yang saya dapat ini kurang dan lebihnya bisa jadi disebabkan karena hal-hal yang saya sebutkan. Selama masih bisa menyeimbangkan semua aspek, saya merasa tenang. Setidaknya untuk diri saya sendiri dulu.
Siapa tahu, jika situasi berubah lagi.. saya kembali berubah. Tapi semoga tidak menjadi manusia yang buruk dan tetap dalam norma yg baik dan tidak membuat Tuhan marah.
R.
game adalah candu tak berkesudahan
game adalah penetral tapi lambat laun menjadi tuntutan
game adalah perampas waktu
game adalah kadang menjadi pengisi sebuah kekosongan
candu terhadapmu
terganti oleh game
game adalah penetral tapi lambat laun menjadi tuntutan
game adalah perampas waktu
game adalah kadang menjadi pengisi sebuah kekosongan
candu terhadapmu
terganti oleh game
Setelah kejar-kejaran dengan deadline sidang dan pekerjaan, saya pulang ke tanah kelahiran tapi bukan kampung halaman. Nasib bagi kami (red: saya dan adik saya) yang bernama Jamin ini adalah tidak memiliki kampung halaman yang sebenarnya kampung halaman. Tapi, mari lupakan sejarah nama itu. Kapan-kapan mungkin saya bahas. Dan inilah sekelumit kisah sepanjang perjalanan kami pergi dan pulang.
Tulungagung, Jawa Timur.
Saya penasaran dengan kota kelahiran saya ini, maka saya iseng untuk sekedar baca dan dapat tulisan ini dari salah satu situs yang saya telusuri di internet.Tentang sejarah asal mula nama Tulungagung ternyata tidak langsung timbul begitu saja. Tulungagung berasal dari dua kata Tulung dan Agung. Kata Tulung mempunyai dua arti yaitu:
(Pertama) Tulung dalam bahasa Sanskerta artinya sumber air atau dalam bahasa Jawa dapat dikatakan Umbul. (Kedua) Tulung yang berarti pemberian, pertolongan atau bantuan. Adapun "Agung" berarti besar. Jadi lengkapnya Tulungagung mempunyai arti "Sumber air besar" atau "Pertolongan besar".
Terus iseng-iseng lagi mencari di wikipedia dan ternyata ada :D
Ada dua versi cerita dalam penamaan nama Kabupaten Tulungagung.
Versi pertama adalah nama "Tulungagung" dipercaya berasal dari kata "Pitulungan Agung" (pertolongan yang agung). Nama ini berasal dari peristiwa saat seorang pemuda dari Gunung Wilis bernama Joko Baru mengeringkan sumber air di Ngrowo (Kabupaten Tulungagung tempo dulu) dengan menyumbat semua sumber air tersebut dengan lidi dari sebuah pohon enau atau aren. Joko Baru dikisahkan sebagai seorang pemuda yang dikutuk menjadi ular oleh ayahnya, orang sekitar kerap menyebutnya dengan Baru Klinthing. Ayahnya mengatakan bahwa untuk kembali menjadi manusia sejati, Joko Baru harus mampu melingkarkan tubuhnya di Gunung Wilis. Namun, malang menimpanya karena tubuhnya hanya kurang sejengkal untuk dapat benar-benar melingkar sempurna. Alhasil Joko Baru menjulurkan lidahnya. Disaat yang bersamaan, ayah Joko Baru memotong lidahnya. Secara ajaib, lidah tersebut berubah menjadi tombak sakti yang hingga saat ini dipercaya "gaman" atau "senjata sakti". Tombak ini masih disimpan dan dirawat hingga saat ini oleh masyarakat sekitar.
Sedangkan, versi kedua nama Tulungagung berasal dua kata, tulung dan agung, tulung artinya sumber yang besar, sedangkan agung artinya besar. Dalam pengartian berbahasa Jawa tersebut, Tulungagung adalah daerah yang memiliki sumber air yang besar. Sebelum dibangunnya Bendungan Niyama di Tulungagung Selatan oleh pendudukan tentara Jepang, di mana-mana di daerah Tulungagung hanya ada sumber air saja. Pada masa lalu, karena terlalu banyaknya sumber air disana, setiap kawasan banyak yang tergenang air, baik musim kemarau maupun musim penghujan.
Dugaan yang paling kuat mengenai etimologi nama kabupaten ini adalah versi kedua, penamaan nama ini dimulai ketika ibu kota Tulungagung mulai pindah di tempat sekarang ini. Sebelumnya ibu kota Tulungagung bertempat di daerah Kalangbret dan diberi nama Kadipaten Ngrowo (Ngrowo juga berarti sumber air). Perpindahan ini terjadi sekitar 1901 Masehi.
Sebelum-sebelumnya, saya tidak sampai seniat ini untuk cari tahu dan baca-baca. Tapi sekarang saya mulai tersadarkan, untuk mencintai dan menghargai sesuatu lebih dalam, kamu perlu tahu siapa dan apa sebenarnya di balik dari suatu hal. Dan ini berlaku untuk semua hal saya rasa. Belakangan juga, pariwisata kota Tulungagung menjadi semakin tersebar di masyarakat luas. Sajian acara yang ada di televisi pasti sedikit banyak turut andil dalam hal ini. Bahkan, jujur saja saya juga penasaran untuk mendatangi semua tempat karena tahu dari salah satu acara di salah satu stasiun televisi ditambah dengan sudah cukupnya usia saya untuk pergi jauh dari orang tua tanpa harus bersama mereka. Dulu-dulu, meskipun saya sangat ingin pergi ke mana-mana, saya tetap harus manut jika orang tua saya bilang tidak boleh karena dianggap masih kecil dan butuh ditemani oleh mereka.
Well,
Time flies, right?
Saya yang hanya tahu Tulungagung karena akibat silsilah keluarga dan numpang lahir, menjadi haus akan apa saja yg ada di sana. Seingat saya dulu jalan-jalan yang saya lalui bukan seperti saat ini dimana wajah kota semakin dibenahi oleh pemerintah setempat. Seingat saya dulu rumah-rumah tetangga nenek tidak sebagus-bagus saat ini, dimana hanya dinding yg berupa bilik bambu dan lantai masih tanah. Tapi, ketika waktu terus berputar dan saya semakin bertambah usia maka semua itu juga pasti berubah.
Tahun ini, saya bersyukur bisa ke Tulungagung lagi dengan lebih terbukanya pikiran dan melihat detail setiap jalan yang saya lalui.
Tulungagung, Jawa Timur.
Saya penasaran dengan kota kelahiran saya ini, maka saya iseng untuk sekedar baca dan dapat tulisan ini dari salah satu situs yang saya telusuri di internet.Tentang sejarah asal mula nama Tulungagung ternyata tidak langsung timbul begitu saja. Tulungagung berasal dari dua kata Tulung dan Agung. Kata Tulung mempunyai dua arti yaitu:
(Pertama) Tulung dalam bahasa Sanskerta artinya sumber air atau dalam bahasa Jawa dapat dikatakan Umbul. (Kedua) Tulung yang berarti pemberian, pertolongan atau bantuan. Adapun "Agung" berarti besar. Jadi lengkapnya Tulungagung mempunyai arti "Sumber air besar" atau "Pertolongan besar".
Terus iseng-iseng lagi mencari di wikipedia dan ternyata ada :D
Ada dua versi cerita dalam penamaan nama Kabupaten Tulungagung.
Versi pertama adalah nama "Tulungagung" dipercaya berasal dari kata "Pitulungan Agung" (pertolongan yang agung). Nama ini berasal dari peristiwa saat seorang pemuda dari Gunung Wilis bernama Joko Baru mengeringkan sumber air di Ngrowo (Kabupaten Tulungagung tempo dulu) dengan menyumbat semua sumber air tersebut dengan lidi dari sebuah pohon enau atau aren. Joko Baru dikisahkan sebagai seorang pemuda yang dikutuk menjadi ular oleh ayahnya, orang sekitar kerap menyebutnya dengan Baru Klinthing. Ayahnya mengatakan bahwa untuk kembali menjadi manusia sejati, Joko Baru harus mampu melingkarkan tubuhnya di Gunung Wilis. Namun, malang menimpanya karena tubuhnya hanya kurang sejengkal untuk dapat benar-benar melingkar sempurna. Alhasil Joko Baru menjulurkan lidahnya. Disaat yang bersamaan, ayah Joko Baru memotong lidahnya. Secara ajaib, lidah tersebut berubah menjadi tombak sakti yang hingga saat ini dipercaya "gaman" atau "senjata sakti". Tombak ini masih disimpan dan dirawat hingga saat ini oleh masyarakat sekitar.
Sedangkan, versi kedua nama Tulungagung berasal dua kata, tulung dan agung, tulung artinya sumber yang besar, sedangkan agung artinya besar. Dalam pengartian berbahasa Jawa tersebut, Tulungagung adalah daerah yang memiliki sumber air yang besar. Sebelum dibangunnya Bendungan Niyama di Tulungagung Selatan oleh pendudukan tentara Jepang, di mana-mana di daerah Tulungagung hanya ada sumber air saja. Pada masa lalu, karena terlalu banyaknya sumber air disana, setiap kawasan banyak yang tergenang air, baik musim kemarau maupun musim penghujan.
Dugaan yang paling kuat mengenai etimologi nama kabupaten ini adalah versi kedua, penamaan nama ini dimulai ketika ibu kota Tulungagung mulai pindah di tempat sekarang ini. Sebelumnya ibu kota Tulungagung bertempat di daerah Kalangbret dan diberi nama Kadipaten Ngrowo (Ngrowo juga berarti sumber air). Perpindahan ini terjadi sekitar 1901 Masehi.
Sebelum-sebelumnya, saya tidak sampai seniat ini untuk cari tahu dan baca-baca. Tapi sekarang saya mulai tersadarkan, untuk mencintai dan menghargai sesuatu lebih dalam, kamu perlu tahu siapa dan apa sebenarnya di balik dari suatu hal. Dan ini berlaku untuk semua hal saya rasa. Belakangan juga, pariwisata kota Tulungagung menjadi semakin tersebar di masyarakat luas. Sajian acara yang ada di televisi pasti sedikit banyak turut andil dalam hal ini. Bahkan, jujur saja saya juga penasaran untuk mendatangi semua tempat karena tahu dari salah satu acara di salah satu stasiun televisi ditambah dengan sudah cukupnya usia saya untuk pergi jauh dari orang tua tanpa harus bersama mereka. Dulu-dulu, meskipun saya sangat ingin pergi ke mana-mana, saya tetap harus manut jika orang tua saya bilang tidak boleh karena dianggap masih kecil dan butuh ditemani oleh mereka.
Well,
Time flies, right?
Saya yang hanya tahu Tulungagung karena akibat silsilah keluarga dan numpang lahir, menjadi haus akan apa saja yg ada di sana. Seingat saya dulu jalan-jalan yang saya lalui bukan seperti saat ini dimana wajah kota semakin dibenahi oleh pemerintah setempat. Seingat saya dulu rumah-rumah tetangga nenek tidak sebagus-bagus saat ini, dimana hanya dinding yg berupa bilik bambu dan lantai masih tanah. Tapi, ketika waktu terus berputar dan saya semakin bertambah usia maka semua itu juga pasti berubah.
Tahun ini, saya bersyukur bisa ke Tulungagung lagi dengan lebih terbukanya pikiran dan melihat detail setiap jalan yang saya lalui.
Saya sekarang tahu. Saya tidak pantas berada dalam lingkaranmu. Hari ini saya merasa sangat berdosa. Manusia papa yg berharap dan bertindak seolah raja.




