Selamat datang di liputan Jelajah Museum edisi #Jakarta!
Jalannya sebetulnya sudah beberapa bulan lalu, tapi baru rilis sekarang akhirnya. Thanks buat Galih yang berkatnya kita jadi juga jelajah museum. Jadi fotografer ala-ala bareng Agist demi tangung jawab ke orang yang udah endorse. Kesempatan kali ini ga apa-apa dua tempat dulu saja. Nanti next-nya akan ada lagi museum yang kita datangi ya. Ok. Foto di atas pembuka yaaaa. Pertanda bahwa hari itu memang sungguh cerah. Berlebihan bahkan.
Museum Taman Prasasti
Awalnya belum tahu sama sekali apa dan gimana museum ini. Ternyata pas sampai di dalamnya isinya makam! Well.. ternyata memang begitu adanya. Museum yang terletak di Jalan Tanah Abang No. 1, Jakarta Pusat ini adalah cagar budaya peninggalan masa koloial Belanda. Fungsi awalnya sebagai pemakaman umum bernama Kebon Jahe Kober seluas 5,5 ha dan dibangun tahun 1795 untuk menggantikan kuburan lain di samping gereja Nieuw Hollandsche Kerk, sekarang Museum Wayang, yang sudah penuh.
Pantas saja ya kalau isinya koleksi nisan-nisan dari masa dahulu kala. Tapi, berdasarkan sumber yang dibaca, luasnya museum ini kian menyusut karena perkembangan kota Jakarta. Sekarang luasnya hanya 1.3 ha saja lho!
Nah, dari semua isi di museum ini yang paling saya tahu ya cuma nisan dengan nama Soe Hok Gie. Itu lho aktivis muda di era-nya Pak Karno dan Pak Harto yang meninggalnya di Gunung Semeru.
Secara kenyamanan, kita bisa lihat-lihat prasasti dengan tenang sih karena memang cenderung sepi. Mungkin karena bentuknya pemakaman juga kali ya, jadi agak jarang dikunjungi. Waktu itu saya lihat-lihat sendiri tanpa Guide. Tapi, kalau mau ada petugas yang menemani untuk ditanya-tanya bisa kok. Biaya masuknya hanya Rp 5.000 saja.
Untuk hunting foto ala-ala, tempat ini juga cukup bagus. Explore angle dan beberapa prasasti sebagai foreground akan menghasilkan gambar yang bagus.
| Nih, foto selfie kita abis muter-muter keringetan. |
Lanjut ke museum yang ke dua. Karena jaraknya tidak terlalu jauh. Kita jalan kaki sampai ke Museum Nasional sekalian menikmati Jakarta yang lengang! Daerah sini memang banyak pohon rindang dan jalan trotoarnya membuat nyaman pedestrian. Tembus-tembus di samping Museum Nasional Indonesia.
Akhirnya ke sini lagi! Terakhir waktu SD. Sungguh jeda waktu yang lama ya. Museum yang dikenal dengan nama lain Museum Gajah ini terletak di Jl. Medan Merdeka Barat No.12, Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10110. Seberangnya MONAS. Akses ke sini dengan transportasi umum juga mudah, pakai Trans Jakarta saja. Ada haltenya persis di depan Museum.
Seiring perkembangan jaman pengelolaan museum semakin canggih terutama khusus untuk museum ini. Kita juga bisa kunjungan virtual ternyata dari website-nya. Hehe sungguh norak saya baru tahu belakangan ini setelah ke sana.
Biaya masuk untuk dewasa Rp 5.000. Sepertinya angka itu jadi seragam deh untuk kawasan seperti museum gitu. Ah iya, foto hits ala anak Instagram juga jadi mandatori setiap kali kunjungan ke sana.
| tetiba hujan deras setelah terik! |
Setelah senang sekaligus kelelahan dan kelaparan, saya, Agist dan Galih pulang ke rumah masing-masing. Bersiap lagi untuk hari esok yang isinya kerja dan kerja.
Mari awali dengan bersyukur karena mendapatkan kesempatan (segalanya) untuk bergabung dalam perjalan ini, Termasuk dalam salah satu tujuan yang ditetapkan oleh panitia meski bisa memilih ikut berjalan di tengah malam atau tetap bergelung mesra dengan guling dan selimut di kala dingin begitu dekat dengan nadi. Sikunir, berada di ketinggian 2.263 mdpl terletak di Wonosobo, Jawa Timur. Tempat yang banyak orang bicarakan tentang betapa indahnya melihat matahari terbit dari sana. Pantas saja selalu ramai manusia, apalagi dengan kondisi jalan yang sudah cukup baik dan ketinggian yang tidak terlalu ekstrem bagi pemula yang belum terbiasa mendaki.
Sesuai informasi yang saya baca kemudian setelah saya ke sana, Sikunir mulai dipopulerkan tahun 1982 oleh pemandu lokal dan mulai menjadi panduan wisata dua tahun kemudian. Ketika sekitaran puncak sudah mulai terang karena cahaya matahari, kita bisa lihat pemandangan langit pengunungan Dieng dan Gunung Sindoro.
Sebelum menuju puncak, tempat untuk melihat pemandangan matahari terbit, ada pondokan dengan tanah datar cukup luas. Kalau lebih sepi bisa dimanfaatkan untuk menunaikan ibadah Sholat Shubuh sebelum menunggu waktu yg paling pas ketika fajar keluar. Jangan sampai terlena :)
Posisi berdiam memang menentukan seberapa pas jarak pandang kita untuk menikmati pemandangan. Kalau memang niat sekali untuk mengabadikan peristiwa terbitnya matahari, maka siap-siap membawa tripod untuk menopang kamera.
Matahari beranjak keluar, setelah saya puas beberapa kali mengambil gambar, saya memutuskan untuk segera turun menyusul salah satu teman yang tidak bisa naik karena kakinya keram dan menunggu di pondokan bawah. Ternyata ketika saya sampai di pondokan, teman saya sudah melanjutkan perjalanan turun ke tempat parkiran mobil. Jadilah saya terus turun bersama dua orang teman lainnya dari atas tadi.
Kalau untuk saya sih ya justru saya merasa pemandangan jauh lebih bisa dinikmati ketika saya menuruni Sikunir. Bias matahari yang sudah mulai meninggi menelusup lewat ranting dan daun, memberikan warna hangat di sepanjang perjalanan dan sekeliling bukit. Ternyata jalanan yang saya lewati pagi buta tadi begitu indah ketika sudah terang.
Ada dua jalur untuk naik dan turun, tapi kita bisa pilih yang mana saja. Keduanya masih tergolong sangat aman menurut saya. Pada beberapa titik ada semacam tali pembatas sekaligus bisa digunakan untuk berpegangan. Tapi, berhati-hati selalu tidaklah pernah salah.
Dan...mari kita tutup lagi dengan ucapan syukur bahwa saya kembali ke rumah dengan selamat dari perjalanan menyenangkan ini :)
Sesuai informasi yang saya baca kemudian setelah saya ke sana, Sikunir mulai dipopulerkan tahun 1982 oleh pemandu lokal dan mulai menjadi panduan wisata dua tahun kemudian. Ketika sekitaran puncak sudah mulai terang karena cahaya matahari, kita bisa lihat pemandangan langit pengunungan Dieng dan Gunung Sindoro.
![]() |
| berpayung awan |
Posisi berdiam memang menentukan seberapa pas jarak pandang kita untuk menikmati pemandangan. Kalau memang niat sekali untuk mengabadikan peristiwa terbitnya matahari, maka siap-siap membawa tripod untuk menopang kamera.
![]() |
| Sebenarnya langit sebelum terang juga bagus, karena banyak sekali bintangnya. Saya jadi ingat langit yang penuh bintang di beberapa kesempatan lalu. |
Matahari beranjak keluar, setelah saya puas beberapa kali mengambil gambar, saya memutuskan untuk segera turun menyusul salah satu teman yang tidak bisa naik karena kakinya keram dan menunggu di pondokan bawah. Ternyata ketika saya sampai di pondokan, teman saya sudah melanjutkan perjalanan turun ke tempat parkiran mobil. Jadilah saya terus turun bersama dua orang teman lainnya dari atas tadi.
![]() |
| kurang lebih sama dengan matahari yang sering saya lihat pagi hari di Jakarta atau Bogor. |
![]() |
| tapi mungkin lebih syahdu saja karena udara jauh lebih dingin dan tidak dengan orang yang dikenal |
Kalau untuk saya sih ya justru saya merasa pemandangan jauh lebih bisa dinikmati ketika saya menuruni Sikunir. Bias matahari yang sudah mulai meninggi menelusup lewat ranting dan daun, memberikan warna hangat di sepanjang perjalanan dan sekeliling bukit. Ternyata jalanan yang saya lewati pagi buta tadi begitu indah ketika sudah terang.
![]() |
| blue meet brown. hi! |
![]() |
| green hill |
![]() |
| one of best view, I think :) |
![]() |
| you can find this image in my ig account too, hehe |
Ada dua jalur untuk naik dan turun, tapi kita bisa pilih yang mana saja. Keduanya masih tergolong sangat aman menurut saya. Pada beberapa titik ada semacam tali pembatas sekaligus bisa digunakan untuk berpegangan. Tapi, berhati-hati selalu tidaklah pernah salah.
Dan...mari kita tutup lagi dengan ucapan syukur bahwa saya kembali ke rumah dengan selamat dari perjalanan menyenangkan ini :)
ps:
Saya pribadi kalau boleh berharap lagi, ingin sekali kembali ke sini tapi ketika tidak sepadat saat saya datang pertama kali ini. Keadaan yang lebih senyap akan jauh lebih menambah keindahan untuk sekedar duduk-duduk dan menikmati alam ketimbang ramai dan akhirnya malah tidak bisa menikmati apapun. Mungkin memang sebaiknya bukan di saat ada acara besar seperti DCF atau agenda wisata lain, pilihan waktunya bisa disesuaikan dengan kebutuhan .
![]() |
| jumlah ini belum seberapa dibanding jumlah keseluruhan. haha |
![]() |
| tambahan: [katanya] Sindoro dari Gardu Pandang |
Belakangan kerap kali setiap akan pergi keluar dari kota ini, merasa harus ada tulisan yang diselesaikan lalu di-publish. Bukan semata-mata karena kesempatan yg juga ada, tapi terlebih karena merasa terdorong untuk melakukan itu untuk satu tujuan yang entah apa saya juga tidak tahu.
Mungkin sebagai pengingat sebelum pergi jauh lalu kembali atau mungkin tidak kembali. Atau sebagai pelepas dahaga akan aksara yang ternyata justru terpuaskan ketika waktu mepet menjelang tidak lagi santai duduk-duduk di belakang meja.
Pergi untuk kembali.
Itu keinginan yang sadar atau tidak ada di setiap perjalanan. Tidak ada yang sebenar-benarnya ingin pergi begitu saja tanpa ingin tahu lagi apa rasanya pulang dan memeluk bayang, menghirup aroma, merasa dingin tembok rumah.
Semua (mungkin) ingin pulang lagi. Setelah pergi.
Mungkin sebagai pengingat sebelum pergi jauh lalu kembali atau mungkin tidak kembali. Atau sebagai pelepas dahaga akan aksara yang ternyata justru terpuaskan ketika waktu mepet menjelang tidak lagi santai duduk-duduk di belakang meja.
Pergi untuk kembali.
Itu keinginan yang sadar atau tidak ada di setiap perjalanan. Tidak ada yang sebenar-benarnya ingin pergi begitu saja tanpa ingin tahu lagi apa rasanya pulang dan memeluk bayang, menghirup aroma, merasa dingin tembok rumah.
Semua (mungkin) ingin pulang lagi. Setelah pergi.
| Rumah di pinggir jalan. Saya ambil dari mobil ketika menuju Rumah. |
Saya pernah baca suatu artikel di salah satu majalah, tapi saya lupa judulnya apa. Tentang seorang editor National Geographic yang setiap harinya harus menyeleksi ribuan gambar dari para fotografer, dan menjadikannya foto pilihan yang sesuai dengan artikel atau informasi yg ingin disampaikan. Foto tersebut harus melalui banyak sekali pertimbangan, terutama sampai mana ia mampu menggambarkan apa yang sebenarnya informasi harus sampai kepada para pembaca.
Kadang, saya yang sangat minim keahlian di bidang fotografi melihat foto yang dipilih dan akhirnya dipampang sebagai foto penunjang di sebuah artikel adalah foto yang biasa saja. Tidak indah, penuh teknik pencahayaan tingkat tinggi, pengaturan point of view yg khusus, atau lainnya. Tapi saya sadari satu hal, kekuatan foto itu justru timbul ketika saya membaca apa yang kemudian disampaikan dalam artikel atau judulnya. Foto itu seperti bicara panjang lebar pada saya. Mengantarkan saya langsung ke tempat kejadian di mana peristiwa itu berlangsung. Mungkin foto tersebut justru dengan lengkap menyajikan apa yang perlu disampaikan, ketepatan peristiwa yang terjadi, dan karakter serta jiwa yang semestinya ada di dalam suatu gambar.
Pada akhirnya, belakangan saya tidak terlalu ambil pusing dengan hasil yang saya punya di kamera saya selama saya melakukan perjalanan. Meski tidak saya pungkiri saya tetaplah penikmat keindahan dalam "sebuah momen yang terperangkap dalam satu kali jepret". Kamera saya bahkan bisa dipakai oleh orang lain untuk memoto apapun yang mereka mau. Saya tidak lagi menghapus banyak foto yang tidak fokkus atau terpotong. Meski beberapa tetap saya hapus jika terlalu tidak karuan hasilnya dan jika sudah terlalu banyak memenuhi storage.
Tapi saya belajar satu hal dari ini, bukan dilihat bagus saja itu cukup. Yang belum sempurna, justru barangkali menyimpan banyak cerita dan jalan baru untuk membuatnya lebih baik dari sudut pandang yang berbeda.
*yang masih bingung untuk seleksi foto yang mau diposting dan diceritakan
:)
Kadang, saya yang sangat minim keahlian di bidang fotografi melihat foto yang dipilih dan akhirnya dipampang sebagai foto penunjang di sebuah artikel adalah foto yang biasa saja. Tidak indah, penuh teknik pencahayaan tingkat tinggi, pengaturan point of view yg khusus, atau lainnya. Tapi saya sadari satu hal, kekuatan foto itu justru timbul ketika saya membaca apa yang kemudian disampaikan dalam artikel atau judulnya. Foto itu seperti bicara panjang lebar pada saya. Mengantarkan saya langsung ke tempat kejadian di mana peristiwa itu berlangsung. Mungkin foto tersebut justru dengan lengkap menyajikan apa yang perlu disampaikan, ketepatan peristiwa yang terjadi, dan karakter serta jiwa yang semestinya ada di dalam suatu gambar.
Pada akhirnya, belakangan saya tidak terlalu ambil pusing dengan hasil yang saya punya di kamera saya selama saya melakukan perjalanan. Meski tidak saya pungkiri saya tetaplah penikmat keindahan dalam "sebuah momen yang terperangkap dalam satu kali jepret". Kamera saya bahkan bisa dipakai oleh orang lain untuk memoto apapun yang mereka mau. Saya tidak lagi menghapus banyak foto yang tidak fokkus atau terpotong. Meski beberapa tetap saya hapus jika terlalu tidak karuan hasilnya dan jika sudah terlalu banyak memenuhi storage.
Tapi saya belajar satu hal dari ini, bukan dilihat bagus saja itu cukup. Yang belum sempurna, justru barangkali menyimpan banyak cerita dan jalan baru untuk membuatnya lebih baik dari sudut pandang yang berbeda.
*yang masih bingung untuk seleksi foto yang mau diposting dan diceritakan
:)
Selamat hari jadi, Bogor!
Tujuan aku selalu pulang setelah lelah melanglang buana
Tujuan aku selalu pulang setelah jalan lelah dijelajah
Karena padamu, rumah dan orang tua masih ada
Karena padamu, sebagian besar cerita usia bertingkah polah
Semoga kamu tetap baik dan mendamaikan orang-orang yang ada di tanahmu.
Jakarta, 03 Juni 2016.
Tujuan aku selalu pulang setelah lelah melanglang buana
Tujuan aku selalu pulang setelah jalan lelah dijelajah
Karena padamu, rumah dan orang tua masih ada
Karena padamu, sebagian besar cerita usia bertingkah polah
Semoga kamu tetap baik dan mendamaikan orang-orang yang ada di tanahmu.
Jakarta, 03 Juni 2016.
Karena kamu baca judulnya yg seperti di atas, maka bukan berarti yg akan kamu temukan adalah kata-kata tentang hujan (seperti biasa) dan cerita di balik terminal yg akan saya suguhkan ya. Saya bukan ingin cerita hal itu. Tapi, saya akan sharing tentang sebuah komunitas yg namanya Terminal Hujan.
:)
Well, kali ini saya kembali. Wajah baru lagi, berkenalan lagi, belajar lagi, dan terinspirasi lagi. Ditambah, kali ini orang tua saya tahu apa yg saya lakukan. Kata mereka, "Selama untuk kemanusiaan dan baik, maka papa sama mama gak akan larang untuk pergi." Semoga bisa berkelanjutan dan tidak cepat pergi lagi dari sedikit yg bisa saya lakukan ini.
dan inilah kami :D
| Yg lagi nunduk itu lagi asik warnain kukunya dg spidol |
| :) Dia murid pintar dari kelas 2. Agak pemalu sih tapi lama-lama akrab juga |
| Ceritanya lagi baca puisi yg sudah dibuat sebelumnya |
| yg satu ini super pemalu, jadi caranya lebih ekstra dibanding yg pertama tadi |
| Dua gadis cilik yg pintar |
| salah satu adik dari siswa kelas 2 yg belajar |
| Photo session ceritanya |
| Makin gaya :D |
| Kumpul sebelum pulang |
| Kak Ijul, Kak Anna, dan Kak (lupa) hehe |
| Rame ya :D Sampai jumpa pekan depan lagi adik-adik |
| Evaluasi di bawah pohon |
| Our Leader |
| Kakak dari Bank Mandiri. |
| yg satu serius sekali |
| Sumbangan buku dari Kakak SMA 9 |
| :) |
| part of team |
| Bogor adalah tempat bertumbuh dan berkembang |
| setidaknya sedikit saja ada peduli dari kita untuk mereka. |
| Anak-anak di balik tembok rapat pemukiman padat penduduk. |
Jakarta, 22 Oktober 2015.
R.
Bandung, 22-23 Agustus 2015
Kenal sama kamu membuat saya lebih ekstrim dan random dalam mengiyakan ajakan untuk pergi ke tempat yang tidak biasanya didatangi. Iya, saya memang suka kemana saja, pergi menjauh dari rutinitas kerja dan kuliah selagi bisa.
--------------------------------
Kita siap-siap berangkat pagi dari halaman kantor, menumpang tempat menunggu jemputan (red: Gojek). Seolah sudah berpengalaman, kita turun di suatu tempat di dekat Poin Square, Lebak Bulus. Meyakini bahwa bus arah ke Bandung akan lewat sana.
Ternyata kita harus berputar jauh sekali untuk bisa ketemu bisnya dan dapat tempat duduk. Bersyukurnya adalah ketika kita tidak harus berebut dan dapat bus yang nyaman. Tarif bus ternyata sudah naik dari yang terakhir kali saya pergi tahun lalu. Tujuan yang sama dan armada bus yang sama. Baiklah, BBM memang sudah tidak seperti dulu lagi. Dengan rute Lebak Bulus-Bandung menggunakan Primajasa dikenakan tarif Rp 75.000 (sekalian cek di sini).
Dimulai dari basa-basi obrolan gak penting sampai akhirnya kita sibuk sama headset masing-masing dan tertidur di perjalanan. Setelahnya terbangun tepat sebelum ke luar pintu tol Pasir Koja. Daaaan sampailah kita di Terminal Leuwi Panjang. Lagi-lagi berputar untuk beli minum dan cari jalan keluar untuk cari angkutan semacam Bus TransJakarta gitu. Karena waktu masih pagi, sedangkan kita janjian dengan teman-teman Tumblr pukul 2 nanti maka diputuskan untuk sedikit melakukan penjelajahan di Bandung. Here we go..
Bermain sambail lihat-lihat kampus orang..
![]() | ||
| Soto Enak Pengganjal Perut depan Salman. Brunch. Sebelum beneran "jalan-jalan" pakai kaki.
|
![]() | ||||||||||
Es Campur Segar.
|
![]() |
| Biar bukan anak SR, tapi punya teman anak SR dan bisa numpang foto di sini itu sangat menyenangkan. |
![]() |
| Penampakan bangungan sekitaran Salman. |
![]() |
| Semacam Koperasi kali ya, ada di sebelah kantin di sebelah masjid. |
![]() |
| Ketika kamu sibuk pilih belanjaan lain, saya pilih gantungan kunci ini. Anggap saja oleh-oleh :) |
![]() |
| lari-lari depan kantin. |
![]() |
| Kamu yang selalu oks! |
![]() |
| jadwal Kantin. |
![]() |
| Buat saya ini jadi pemandangan yg sulit untuk dideskripsikan. |
![]() |
ikut Foto.![]() |
Menuju Meeting Point bertemu dan dijemput oleh rekanan..
![]() |
| Berasa lagi di mana gituuu.. |
![]() |
| Neng, ga boleh galau di angkot. Malu sama ibu-ibu sebelah. |
![]() |
| akhirnya sampai di tempat janjian. Let me take a photo first. |
![]() |
| Maze. |
![]() |
| taraaaaa \(^^)/ |
![]() |
| Masih suasana Agustus mungkin, jadi masih ada kegiatan perlombaan. |
![]() |
| Bongkar muatan mobil. |
![]() |
| padahal, cuma semalem doang. Tapi rempong bangeeeet Cyiin :D |
![]() |
| Start walking. |
![]() |
| di belakang mba-mba perkasa. haha |
![]() |
| kemaraaaauuuuu |
![]() |
| Sendu. Syahdu. |
![]() | ||
masih jauh, di atas sana. Diambil gambarnya dari Warung Daweung.
|
![]() |
| Sampai tempat pendaftaran. |
![]() |
| Ada Musholla. Ibadahnya jadi tetap bisa dijaga ;) |
![]() |
| keadaan di mana masih sepi. |
![]() |
| tambahan informasi |
![]() |
| Persiapan pembuatan tenda. |
![]() |
| Santai. Tapi beneran deh, tiduran atau sekedar duduk-duduk di Hammock itu rasanyaaaaaa menyenagkan! |
![]() |
| Si Kriwil yang menarik perhatian. Ceritanya, saat semua sudah rapi, anak ini sibuk main di sekitar tenda kami. Terus diajakin ngobrol sama saya tapi sayanya dicuekin. Dia lagi serius. Serius main. |
![]() |
| Menjelang senja tapi mendung. |
![]() |
| Masak untuk makan malam :) |
![]() |
| Di saat yg lain sedang sesi curhat. |
![]() |
| “aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada” ― Sapardi Djoko Damono |
![]() |
| iya mendung, plus sendiri, plus ga jelas rasanya hati. |
![]() |
| Tapi gimanapun, Bandung tetap indah :) |
dan setelah kita melakukan misi pembuatan video untuk Nadira, kita sempatkan untuk foto bersama
![]() |
| Kita foto bareng :) |
![]() |
| tuh kan, udah banyak yg masak. |
![]() |
| Kamu serius amat ;p |
![]() |
| menggodaaaaaaa. Ya Tuhan berapa banyak zat warna di dalamnya >,< |
![]() |
| Telur Orek. |
![]() |
| my sandwiches! tapi sayang, satupun dari lembar roti itu ga ada yg masuk perut sama sekali. |
Ketika selesai haha hihi sama teman-teman dan mereka sibuk dengan kegiatan mereka. Saya menghilang. Wusss. Untuk waktu yang tidak saya prediksi. Menikmati pagi yang begitu indah di bulang Agustus. Sekali-kali jalan sendiri di tengah hutan sambil hunting foto dan sedikit lari pagi sebelumnya.
![]() |
| semakin saya berusaha mendekatkan diri, semakin banyak yg jadi halangan. Semakin banyak yg saya pertanyakan. |
![]() |
| Sendiri di tengah hutan pinus. Menikmati cahaya pagi dan udara segar. Jauh dari Jakarta. |
![]() |
| Memutuskan memisahkan diri dari rombongan dan siap bertualang. |
![]() |
| HOPE |
![]() |
| the best morning in August :) |
![]() |
| :) |
![]() |
| Papan Informasi. Adanya di pintu masuk sebelah Barat. |
![]() |
| Penunjuk jalan menuju Patahan Lembang. |
![]() |
| Mengikuti dua pasangan di depan. Nah saya sendirian. Pasangannya mana? #eh |
![]() |
| keep walking, as long as you beside me, we'll fine. #eaaaa |
![]() |
| Pemandangan dari Patahan Lembang (1) |
![]() |
| Pemandangan dari Patahan Lembang (2) |
![]() |
| Pemandangan dari Patahan Lembang (3) |
![]() |
| Pemandangan dari Patahan Lembang (4) |
Setelah kembali dari petualangan, saya kembali ke tenda. Mereka sudah siap-siap pulang. Tenda sudah rapi dilipat dan siap berfoto untuk sedikit jejak kenangan di masa depan.
![]() |
| Bunga cantik di sebelah papan. |
![]() |
| Prasasti peresmian Puncak Bintang. |
Setelah kumpul semua, satu-satu saya ajak kenalan dan seperti inilah kami.
![]() |
| Teman-teman baru dari Kota Kembang :) |
Keterangan :
Foto kita berdua. Annah-Ranting Kecil. Devi-Teteh Kalem. Tami-Cewek Tomboy. Eka-Yang Punya Hp Bagus. Yolanda-Partner Tomboy. Iid-Supir Ganteng. Brian-Seleb Pria. Max-Seleb Wanita. Ria. Dewi-Koki Cantik Ahli Gizi. Indira-Drawer Galau. Yudith-Koki Baik Hati. Rere-Gadis Keturunan Arab. Lidya-Ekstras. Riviana-Dokter Muda. Pipih-Ekstras. Mimi-Temennya Aziz dan Adit.
Saya senang bisa ke sini lagi. Senang bisa jalan-jalan sendiri sampai Patahan Lembang, Senang diajak main ke ITB. Senang jajan sama kamu. Senang juga dibolehkan ikut sama kamu di acaramu. Haha
dan pastinya aku senang temenan sama kamu.
ps:
sehat-sehat selalu ya kamu yg sekarang sudah di Bandung :)
Love,
R.

























































































