Selamat pagi, Jakarta!
Ketika kamu dibersamai hujan mulai dari kami buka mata sampai kami menutupnya kembali, kamu seperti terasa lebih menenangkan. Mengingatkan kami para pekerja dari luar kota, bahwa ini rumah kami sendiri. Bogor. Sebuah kota yang katanya dapat julukan Kota Hujan.
Sepanjang hari di bulan Januari, langit kelabu akan menjadi pemandangan paling biasa untuk kami. Menenengadah, berharap ada cahaya matahari seperti biasa, langit biru, dan gumpalan awan aneka bentuk menghiasi akan semakin sulit ketika kamu dibersamai hujan sepanjang bulan ini.
Bogor tidak kalah sendu sekaligus syahdu denganmu. Kami terbiasa dengan itu.
Hal-hal luar biasa tapi justru biasanya terjadi saat hujan. Entah itu pagi, siang nanti, atau malam hari. Kita lihat saja, hujan sepanjang hari akan bawa kabar apa lagi bagi kami ini?
:)
R.
Ketika kamu dibersamai hujan mulai dari kami buka mata sampai kami menutupnya kembali, kamu seperti terasa lebih menenangkan. Mengingatkan kami para pekerja dari luar kota, bahwa ini rumah kami sendiri. Bogor. Sebuah kota yang katanya dapat julukan Kota Hujan.
Sepanjang hari di bulan Januari, langit kelabu akan menjadi pemandangan paling biasa untuk kami. Menenengadah, berharap ada cahaya matahari seperti biasa, langit biru, dan gumpalan awan aneka bentuk menghiasi akan semakin sulit ketika kamu dibersamai hujan sepanjang bulan ini.
Bogor tidak kalah sendu sekaligus syahdu denganmu. Kami terbiasa dengan itu.
Hal-hal luar biasa tapi justru biasanya terjadi saat hujan. Entah itu pagi, siang nanti, atau malam hari. Kita lihat saja, hujan sepanjang hari akan bawa kabar apa lagi bagi kami ini?
:)
R.
Sederet kegiatan hari ini,
Menghabiskan tenaga dan hanya menyisakan sedikit imaji,
menjelang aku pergi ke mimpi.
Lantai putih,
Dinding putih,
suara putaran lagu dari Spotify yang tidak perlu dipilih.
Kilat cahaya,
Model peraga,
dan lembar kain aneka warna pada tubuh wanita.
Alih-alih mencari warta untuk pemenuh pinta,
Menikmati Jakarta yang masih lengang sejenak dari balik kaca,
Sembari berbincang dengan pria paruh baya berkaca mata.
Duduk di kemudi,
Bercerita bahwa mobilnya pernah dinaiki Habibie,
Aku? Menyimak dan sesekali menimpali.
Ah, Jakarta siang ini begitu terasa damai dan nyaman dipandang mata.
Melewati jalanan sepi tidak banyak salipan roda empat atau dua.
Mengetahui hunian macam apa untuk sang mantan kepala negara.
Lalu kembali pada studio rimbun sarat cahaya,
Sebagai penerang pada hasil nanti di figura,
dan buah aneka warna yang cantik sudah berderet di display tanpa kaca.
Beberapa kali datang dan pergi ke tempat yg sama,
Menyegarkan mata dari jenuh layar penuh berita.
Kemudian malam menyisakan sedikit waktu,
Seperti kesempatan yang ada tapi kemudian berlalu,
dan aku terlelap dalam senyum karenamu.
Pagi besok, duniaku bukan lagi di Jakarta.
ps:
Just before year end holiday
Menghabiskan tenaga dan hanya menyisakan sedikit imaji,
menjelang aku pergi ke mimpi.
Lantai putih,
Dinding putih,
suara putaran lagu dari Spotify yang tidak perlu dipilih.
Kilat cahaya,
Model peraga,
dan lembar kain aneka warna pada tubuh wanita.
Alih-alih mencari warta untuk pemenuh pinta,
Menikmati Jakarta yang masih lengang sejenak dari balik kaca,
Sembari berbincang dengan pria paruh baya berkaca mata.
Duduk di kemudi,
Bercerita bahwa mobilnya pernah dinaiki Habibie,
Aku? Menyimak dan sesekali menimpali.
Ah, Jakarta siang ini begitu terasa damai dan nyaman dipandang mata.
Melewati jalanan sepi tidak banyak salipan roda empat atau dua.
Mengetahui hunian macam apa untuk sang mantan kepala negara.
Lalu kembali pada studio rimbun sarat cahaya,
Sebagai penerang pada hasil nanti di figura,
dan buah aneka warna yang cantik sudah berderet di display tanpa kaca.
Beberapa kali datang dan pergi ke tempat yg sama,
Menyegarkan mata dari jenuh layar penuh berita.
Kemudian malam menyisakan sedikit waktu,
Seperti kesempatan yang ada tapi kemudian berlalu,
dan aku terlelap dalam senyum karenamu.
Pagi besok, duniaku bukan lagi di Jakarta.
ps:
Just before year end holiday
Lewat dari dua empat, sudah berapa kali mampir di telinga penyataan dan pertanyaan perihal menikah. Membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warrahmah. Tidak lagi bisa membual terhadap diri sendiri bahwa masih terlalu dini secara usia. Mau bilang apa, siapa yang percaya kalau kita bilang bahwa usia ini masih dianggap remaja. Bahkan jika Tuhan baik hati dan waktu masih ada, dua empat akan berganti jadi dua lima. Semakin tidak mungkin berkelit pada setiap pertanyaan yang datang dari segala penjuru mata angin keluarga.
Tapi bukankah menikah seharusnya menjadi langkah yang dijalani dengan segenap keyakinan dan tidak sedikitpun ada ragu di dalamnya? Atau memang meragu itu justru perlu? Perlu agar lebih hati-hati di setiap langkahnya, perlu agar senantiasa mengingat Tuhan dalam setiap keputusan, perlu agar tidak angkuh pada takdir Tuhan?
Kata mama, jika tiba masanya untuk memulai semua, tidaklah menutup kemungkinan bahwa rintangan itu justru semakin bergairah menghadang. Apa kabar hai lelaki yang dulu pernah datang menawarkan kehidupan di masa mendatang? Nyalimu ternyata ditelan waktu lalu hilang. Waktu memang alat paling sederhana sekaligus mematikan sebagai penentu kesetiaan. Tidak banyak yang bisa bertahan dalam waktu lama tanpa kepastian kecuali mereka yang benar-benar menyakini apa yang mereka percaya.
Tapi bukankah menikah seharusnya menjadi langkah yang dijalani dengan segenap keyakinan dan tidak sedikitpun ada ragu di dalamnya? Atau memang meragu itu justru perlu? Perlu agar lebih hati-hati di setiap langkahnya, perlu agar senantiasa mengingat Tuhan dalam setiap keputusan, perlu agar tidak angkuh pada takdir Tuhan?
Kata mama, jika tiba masanya untuk memulai semua, tidaklah menutup kemungkinan bahwa rintangan itu justru semakin bergairah menghadang. Apa kabar hai lelaki yang dulu pernah datang menawarkan kehidupan di masa mendatang? Nyalimu ternyata ditelan waktu lalu hilang. Waktu memang alat paling sederhana sekaligus mematikan sebagai penentu kesetiaan. Tidak banyak yang bisa bertahan dalam waktu lama tanpa kepastian kecuali mereka yang benar-benar menyakini apa yang mereka percaya.
Awal-awal semester di saat masih bareng dengan mereka di setiap mata kuliah sebelum akhirnya mencar di semester tua, kita jalan-jalan bareng semacam piknik keluarga ke Jungleland! Dulu Jungleland masih baru dibuka, hanya ada 3 wahana yang siap untuk dipakai. Kalau sekarang mungkin sudah lengkap ya :)
| Dulu masih 75K saja, antrinya pun ga lama. Karena masih sepi! |
| Tempat pertama yang dimasuki. |
| Sebelah kiri dulu belum nikah, sekarang udah punya anak 1. |
| They are Jamin and Erlita. |
| yang paling depan, Ms. Nova. I adore her, so much! |
| Beneran piknik dong, bawa nasi bungkus :) |
| Foto terlengkap dari yang ada... |
you can be a good person, if your friends are good person. you can be a good person, even your friends are not. it's all about you. because basically you are a good person
R.